TINGGAL DALAM HADIRAT TUHAN
Sebagai kehidupan Kristen
kita tidak bisa jauh dari hadirat Tuhan, sebab tanpa hadirat Tuhan
kehidupan rohani kita tidak akan mendapatkan kekuatan.
Tenggelam dalam hadirat-Nya itu
seperti busa atau spons yang dicelupkan ke dalam air, secara pelan-pelan
air itu akan merembes ke dalam busa. Saat kita masuk dalam hadirat
Tuhan, hadirat Tuhan akan merembes dalam kehidupan kita, memenuhi
seluruh hati dan hidup kita. Semakin dalam kita tenggelam,
‘air’ Roh-Nya semakin membanjiri hati kita; menguasai hati kita dan
memimpin setiap langkah kita, ke arah mana kita seharusnya melangkah.
Ada tokoh-tokoh di dalam Alkitab yang
begitu menyukai, mencintai dan merindukan hadirat Tuhan bahkan selalu
mencari Tuhan dalam hidupnya.
1. YAKUB Apa
rahasia Yakub; sampai-sampai berkat kesulungan itu jatuh padanya,
padahal dia bukan anak yang sulung? Mengapa bukan Esau padahal Esau
adalah anak yang sulung? Karena ternyata Yakub punya satu kesukaan.
Kejadian 25 : 27 “Lalu
bertambah besarlah kedua anak itu: Esau menjadi seorang yang pandai
berburu, seorang yang suka tinggal di padang, tetapi Yakub adalah
seorang yang tenang, yang suka tinggal di kemah.”
Ternyata Yakub suka akan hadirat Tuhan. Satu-satunya kerinduan Yakub adalah bersekutu dengan Tuhan di dalam kemah. Yakub sangat menyukai hadirat Tuhan. Itu sebabnya Yakub selalu tinggal di dalam kemah; seperti yang tertulis di dalam Bilangan 24:5, “Alangkah indahnya kemah-kemahmu hai Yakub.”
Mengapa kemah Yakub itu dikatakan indah? Karena Yakub adalah pribadi yang suka mencari hadirat Tuhan. Lewat
persekutuannya dengan Tuhan di dalam kemah, ia bisa merasakan hadirat
Tuhan. Kalau kita rindu mempunyai kehidupan yang indah di hadapan Tuhan,
syaratnya hanya satu : MENYUKAI HADIRAT TUHAN.
Kemah di sini berbicara tentang waktu khusus kita bersama dengan Tuhan. Jika kita sudah tidak punya saat-saat khusus lagi dengan Tuhan, kita bisa menjadi seperti Esau, menjadi kehidupan yang ditolak.
Mari kita renungkan, mengapa Esau ditolak saat akan diberkati? Karena kerinduan Esau adalah berburu. Esau suka berburu binatang dan kehidupan yang menyukai berburu menunjuk kepada kehidupan yang suka mencari kesenangan daging.
Lalu, apa yang menjadi kesukaan kita? Apakah kita lebih senang berburu,
mencari kesenangan daging atau lebih baik berdiam dalam kemah mencari
hadirat-Nya?
2. DAUDMazmur 84:10a “Lebih baik satu hari dipelataranMu Tuhan daripada seribu hari di tempat lain.”
Kalimat tersebut dituliskan oleh Daud
dalam kitab Mazmur. Bila kalimat tersebut diucapkan oleh seorang yang
biasa-biasa yang hidupnya sederhana, mungkin kelihatannya itu
wajar-wajar saja dan tidak ada istimewanya. Tetapi ucapan tersebut keluar dari mulut seorang raja yang memiliki segalanya dan hidup dalam kemewahan.
Daud memiliki takhta, istana, harta, dan juga banyak isteri-isteri yang
cantik. Tetapi Daud adalah satu pribadi yang luar biasa! Bagi Daud, Tuhan bukanlah hanya sekedar Tuhan tapi Tuhan adalah kekasih dan pujaan hatinya. Sejak masih remaja, Daud sudah mengenal Tuhan dengan baik. Daud adalah orang yang berkenan kepada Tuhan bahkan Yesus sendiri disebut anak Daud.
Banyak orang Kristen yang tidak
menyediakan waktu khusus buat Tuhan. Andaikan berdoa atau bersaat teduh,
itu pun dilakukan hanya singkat dan sekedarnya. Bahkan banyak para
pelayan atau Hamba Tuhan yang lebih suka melayani daripada bersekutu
dengan Tuhan. Itu sebabnya jangan salahkan Tuhan bila hidup mereka
mengalami kekalahan dan kekeringan.
Kita harus lebih suka bersekutu dengan Tuhan daripada kegiatan apapun. Hadirat-Nya
adalah tempat terindah di dunia ini. Kedudukan, popularitas, harta,
kerabat, sahabat, pelayanan dan keluarga tidak bisa menjadi pengganti
dari kepuasan hadirat Tuhan. Maukah kita menjadi seperti Daud? Maukah kita disebut orang yang berkenan kepada Tuhan? Rahasianya adalah MENCINTAI HADIRAT TUHAN.
Apakah kita bisa berkata: “Lebih baik
satu hari di pelataran Tuhan daripada seribu hari (3 tahun) di tempat
lain?” Apakah kita mau mencintai hadirat Tuhan lebih daripada apapun di dunia ini? Ingatlah di Surga nanti kita juga akan berdiam dalam hadirat Tuhan yang begitu indah. Itu sebabnya mulailah menghormati dan mencintai hadirat Tuhan saat kita ada di bumi ini.
3. SAMUELSamuel
masih kecil, tetapi ada satu hal yang ia rindukan, itulah hadirat Tuhan.
Terbukti Samuel ini tidur dekat Tabut, tidur dalam Ruangan Maha Suci (1
Samuel 3:3). Tabut Tuhan berbicara tentang HADIRAT Tuhan sebab
Tabut itu letaknya ada di dalam Ruangan Maha Suci, ruangan yang
diterangi oleh sinar kemuliaan Tuhan.
Orang yang selalu merindukan
hadirat Tuhan pasti peka terhadap suara Tuhan, itulah sebabnya Tuhan
berbicara kepada Samuel, Tuhan tidak berbicara kepada imam Eli.
Apa artinya seorang imam kalau Tuhan tidak berbicara kepadanya? Apa
jadinya seorang imam tetapi tidak peka terhadap suara Tuhan? Padahal
seharusnya imam itu mempunyai kehidupan yang sangat dekat dengan hadirat
Tuhan.
Imam Eli telah menyia-nyiakan panggilannya sehingga Tuhan mengalihkannya kepada orang lain. Itu sebabnya jangan relakan hidup kita kehilangan hadirat Tuhan, jangan sampai kita jauh dari hadirat Tuhan.
Kehidupan Kristen yang sudah tidak merindukan hadirat Tuhan, yang
hidupnya sudah jauh dari Tabut Perjanjian maka di hadapan Tuhan
kehidupan itu bagaikan sudah mati. Apa yang bisa dilakukan oleh orang
mati? Tidak ada! Berarti kehidupan itu sudah tidak berguna lagi baik
bagi Tuhan maupun bagi manusia!
Oleh sebab itu janganlah kita menjadi
seperti imam Eli, sebab apa artinya kita menjadi pelayan Tuhan tapi
hidup kita jauh dari hadirat Tuhan? Apa artinya kita menjadi imam-imam
yang melayani di dalam rumah Tuhan tapi hidup kita tidak lagi merindukan
hadirat Tuhan? Biarlah kerinduan itu tetap ada dalam hati kita.
Esau yang suka berburu daging, akhirnya
ditolak. Eli juga ditolak, karena hidupnya sudah dipenuhi dengan
kesukaan akan daging, kesukaan Eli adalah makan, suka akan daging. Menyukai
perbuatan daging membuat kita jauh dari hadirat Tuhan namun jika
kesukaan kita adalah bersekutu dengan Tuhan maka ini akan membuat kita
semakin dekat dan semakin mengenal Tuhan sampai kita pun bisa merasakan
sinar kemuliaan Tuhan yang begitu dahsyat. Tuhan selalu rindu untuk berbicara dengan kita namun seringkali kita tidak peka akan apa yang sedang Ia katakan kepada kita.
Kalau kita mengalami pertemuan dengan hadirat Tuhan, maka itu akan terlihat jelas dalam tingkah laku dan wajah kita.
Orang lain akan melihat kemuliaan Tuhan dari wajah kita. Seperti yang
terjadi pada Musa, ketika Musa melihat kemuliaan dan hadirat Tuhan di
gunung Sinai, ia turun dengan wajahnya yang bercahaya seperti terang
bahkan orang-orang tak dapat memandang wajahnya.
“Ketika Musa turun dari
gunung Sinai --kedua loh hukum Allah ada di tangan Musa ketika ia turun
dari gunung itu--tidaklah ia tahu, bahwa kulit mukanya bercahaya oleh
karena ia telah berbicara dengan TUHAN.” (Keluaran 34:219)
Healing Quote :“Bawalah
aku berjalan dalam kebenaran-Mu dan ajarlah aku, sebab Engkaulah Allah
yang menyelamatkan aku, Engkau kunanti-nantikan sepanjang hari.” (Mazmur 25:5)
Halleluya
BalasHapus