Selasa, 30 Juli 2013

MENGENAL

Adalah suatu kehormatan yang tidak ternilai dan kebahagiaan besar melampaui apapun juga jika oleh karena kasih karunia Tuhan kita dapat dibawa untuk datang mendekat kepadaNya dan agar kita dapat mengenal Dia dengan benar. 
Rasul Paulus berkata, “Aku berdoa, supaya kamu bersama dengan segala orang kudus dapat memahami, betapa lebarnya dan panjangnya dan dalamnya dan tingginya kasih Kristus, dan dapat mengenal kasih itu, sekalipun ia melampaui segala pengetahuan.  Aku berdoa supaya kamu dipenuhi didalam seluruh kepenuhan Allah.” (Efesus 4:18-19)
Mengenal Tuhan yang adalah Kasih, mengenal pribadiNya, mengenal hati dan pikiranNya, mengenal perasaanNya, mengenal jalan-jalanNya, mengenal kehendak dan tujuan-tujuanNya, mengenal nilai-nilai dan hukum-hukumNya, mengenal kuasaNya dan masih banyak lagi yang jika dituliskan secara menyeluruh memerlukan kekekalan untuk menjabarkan Tuhan.
Rasul Paulus berharap dan berdoa agar jemaat di Efesus dan orang-orang kudus, termasuk setiap kita, dapat memahami dan mengenal Tuhan melampaui pembelajaran ilmu pengetahuan tentang Tuhan, sebab diri Tuhan melampaui semuanya itu, agar supaya setiap pemercaya dapat dipenuhi dengan seluruh kepenuhan Tuhan.   Dengan kata lain kita mengalami perubahan menjadi serupa dengan Dia didalam kemuliaan yang semakin besar.  Pikiran dan perasaan kita semakin memiliki pikiran-pikiran dan perasaan yang terdapat didalam Kristus Yesus,  kehendak dan tujuan-tujuanNya menjadi kehendak dan tujuan-tujuan kita, nilai-nilai dan hukum-hukumnya tertulis didalam loh hati kita sehingga hal-hal yang supranatural dari padaNya  menjadi natural didalam kehidupan baru kita.
Ilmu pengetahuan tentang Tuhan, jabatan, titel, posisi, karunia pelayanan semua itu baik.  Tetapi kesemuanya itu bukan menjamin seseorang memiliki pengenalan akan Tuhan dengan benar.
Diperlukan perjumpaan demi perjumpaan antara kita dengan Tuhan baik didalam alam jiwa melalui perenungan yang mendalam dan persekutuan dengan Firman Tuhan, sehingga Firman itu memerdekakan jiwa kita, yakni perasaan, pikiran dan kehendak kita dan juga melalui manusia roh kita dengan Roh Tuhan.
Suatu hari beberapa tahun yang silam saya mengalami perjumpaan dengan Tuhan melalui roh saya ketika saya sedang didalam doa.  Saya mendapatkan diri saya sedang mendaki sebuah gunung yang begitu tinggi, jika dilihat dari pandangan atas ke bawah demikian terjal dan curam.  Dibantu dengan tali pengikat dipinggang saya dan tali yang lain yang telah tersangkut dan bersauh jauh dipuncaknya.  Dan dengan susah payah saya mendaki dan akhirnya saya mencapai puncak gunung.  Saya sebut ini sebagai “Pengalaman Puncak Gunung” (Mountain Top Experience).  Ketika mencapai puncaknya, separuh badan saya masih belum memijak puncak gunung, saya terkejut melihat sepasang kaki yang tertutup dengan debu memakai sepatu bertali.  Seketika itu juga tanpa saya melihat wajahNya, saya tahu bahwa sepasang kaki tersebut adalah sepasang kaki Tuhan kita Yesus Kristus.  Saya dekati sepasang kaki tersebut.  Perasaan saya pada waktu itu seperti menemukan sebuah  harta karun yang tidak ternilai dan dengan air mata saya yang bercucuran saya menyeka sepasang kaki yang tertutup dengan debu.  Kemudian saya mendengar Dia berkata, “Maukah engkau melihat Anak Manusia itu berjalan kembali di bumi ?”  Saya menjawab Dia sambil terus menyeka sepasang kakiNya dengan air mata saya, “Ya, Tuhan, aku mau …”
Sesungguhnya Tuhan merindukan Rupa dan GambaranNya, anak-anak manusia, putera-putera (Huios) Tuhan untuk memenuhi bumi berjalan layaknya Ia berjalan.  Bergerak layaknya Ia bergerak.  Berbicara layaknya Ia berbicara.  Berpikir layaknya Ia berpikir.  Melakukan hal-hal yang Ia lakukan bahkan hal-hal yang lebih besar dari yang Ia pernah lakukan.  Hal-hal yang memuliakan dan membuat Bapa dikenal diseluruh bumi melalui keturunan-keturunanNya.
Ketika Elia melawan nabi-nabi Baal, Elia berdoa, “Jawablah aku ya TUHAN, jawablah aku, supaya bangsa ini “mengenal” (Ibr. “Yadha”) bahwa Engkaulah Allah, TUHAN (Yehova, Elohim), dan Engkaulah yang membuat hati mereka tobat kembali.”  (1 Raja-Raja 18:37)
Elia rindu agar Yehova, Elohim, dikenal dibangsanya.  Elia tidak mewakili institusi manapun.  Tidak ada nabi yang sejati berbicara atas nama institusi.  Elia hanya mau, TUHAN Allahnya, menjadi dikenal dan terkenal.  Dan merindukan agar umatNya kembali bertobat dan datang kepada TUHAN.
Menjelang hari-hari kedatangan Tuhan kita Yesus Kristus, marilah kita sepakat untuk memakai seluruh kehidupan kita untuk mengenal Dia dengan benar agar supaya Ia dapat dikenal melalui hidup kita, Dia yang menjadi terkenal.  Dia yang bertambah-tambah dan kita yang berkurang-kurang.  Sehingga kita dipenuhi dengan seluruh kepenuhanNya dan dunia dapat melihat pribadiNya didalam hidup kita.  Saya ingin mengutip motto Almarhum ayah saya yang ia hidupi, “To Know Him and To Make Him Known.”  Tidak ada motivasi dan ambisi lain didalam hidupnya kecuali ingin untuk lebih lagi mengenal Tuhan dengan benar agar Tuhan dapat dikenal melalui kehidupannya.
Apapun pencapaian didalam kehidupan kita, didalam keluarga, didalam pergaulan, didalam pekerjaan, didalam usaha, didalam pelayanan, didalam panggilan, jika didasari dari pengenalan kita akan Tuhan dengan benar maka semua memiliki tujuan hanya untuk membuat Tuhan dikenal.
Alangkah ironisnya jika kita berpikir kita telah mengenal Tuhan, tetapi pada akhir hidup kita Tuhan berkata, “Aku tidak pernah mengenal kamu ! Enyahlah daripadaKu, kamu sekalian pembuat kejahatan !”
Tuhan mengenal siapa kepunyaanNya (2 Timotius 2:19), yaitu mereka yang mengenal Tuhan dan melakukan kehendakNya.
(BPP/0413)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar