MENGENAL
Adalah suatu kehormatan
yang tidak ternilai dan kebahagiaan besar melampaui apapun juga jika
oleh karena kasih karunia Tuhan kita dapat dibawa untuk datang mendekat
kepadaNya dan agar kita dapat mengenal Dia dengan benar.
Rasul Paulus berkata, “Aku berdoa, supaya kamu bersama dengan segala orang kudus dapat memahami, betapa lebarnya dan panjangnya dan dalamnya dan tingginya kasih Kristus, dan dapat mengenal kasih itu, sekalipun ia melampaui segala pengetahuan. Aku berdoa supaya kamu dipenuhi didalam seluruh kepenuhan Allah.” (Efesus 4:18-19)
Mengenal Tuhan yang adalah Kasih,
mengenal pribadiNya, mengenal hati dan pikiranNya, mengenal perasaanNya,
mengenal jalan-jalanNya, mengenal kehendak dan tujuan-tujuanNya,
mengenal nilai-nilai dan hukum-hukumNya, mengenal kuasaNya dan masih
banyak lagi yang jika dituliskan secara menyeluruh memerlukan kekekalan
untuk menjabarkan Tuhan.
Rasul Paulus berharap dan berdoa agar
jemaat di Efesus dan orang-orang kudus, termasuk setiap kita, dapat
memahami dan mengenal Tuhan melampaui pembelajaran
ilmu pengetahuan tentang Tuhan, sebab diri Tuhan melampaui semuanya
itu, agar supaya setiap pemercaya dapat dipenuhi dengan seluruh
kepenuhan Tuhan. Dengan kata lain kita mengalami perubahan menjadi
serupa dengan Dia didalam kemuliaan yang semakin besar. Pikiran dan
perasaan kita semakin memiliki pikiran-pikiran dan perasaan yang
terdapat didalam Kristus Yesus, kehendak dan tujuan-tujuanNya menjadi
kehendak dan tujuan-tujuan kita, nilai-nilai dan hukum-hukumnya tertulis
didalam loh hati kita sehingga hal-hal yang supranatural dari padaNya
menjadi natural didalam kehidupan baru kita.
Ilmu pengetahuan tentang Tuhan, jabatan,
titel, posisi, karunia pelayanan semua itu baik. Tetapi kesemuanya itu
bukan menjamin seseorang memiliki pengenalan akan Tuhan dengan benar.
Diperlukan perjumpaan demi perjumpaan
antara kita dengan Tuhan baik didalam alam jiwa melalui perenungan yang
mendalam dan persekutuan dengan Firman Tuhan, sehingga Firman itu
memerdekakan jiwa kita, yakni perasaan, pikiran dan kehendak kita dan
juga melalui manusia roh kita dengan Roh Tuhan.
Suatu hari beberapa tahun yang silam
saya mengalami perjumpaan dengan Tuhan melalui roh saya ketika saya
sedang didalam doa. Saya mendapatkan diri saya sedang mendaki sebuah
gunung yang begitu tinggi, jika dilihat dari pandangan atas ke bawah
demikian terjal dan curam. Dibantu dengan tali pengikat dipinggang saya
dan tali yang lain yang telah tersangkut dan bersauh jauh dipuncaknya.
Dan dengan susah payah saya mendaki dan akhirnya saya mencapai puncak
gunung. Saya sebut ini sebagai “Pengalaman Puncak Gunung” (Mountain Top Experience).
Ketika mencapai puncaknya, separuh badan saya masih belum memijak
puncak gunung, saya terkejut melihat sepasang kaki yang tertutup dengan
debu memakai sepatu bertali. Seketika itu juga tanpa saya melihat
wajahNya, saya tahu bahwa sepasang kaki tersebut adalah sepasang kaki
Tuhan kita Yesus Kristus. Saya dekati sepasang kaki tersebut. Perasaan
saya pada waktu itu seperti menemukan sebuah harta karun yang tidak
ternilai dan dengan air mata saya yang bercucuran saya menyeka sepasang
kaki yang tertutup dengan debu. Kemudian saya mendengar Dia berkata, “Maukah engkau melihat Anak Manusia itu berjalan kembali di bumi ?” Saya menjawab Dia sambil terus menyeka sepasang kakiNya dengan air mata saya, “Ya, Tuhan, aku mau …”
Sesungguhnya Tuhan merindukan Rupa dan
GambaranNya, anak-anak manusia, putera-putera (Huios) Tuhan untuk
memenuhi bumi berjalan layaknya Ia berjalan. Bergerak layaknya Ia
bergerak. Berbicara layaknya Ia berbicara. Berpikir layaknya Ia
berpikir. Melakukan hal-hal yang Ia lakukan bahkan hal-hal yang lebih
besar dari yang Ia pernah lakukan. Hal-hal yang memuliakan dan membuat
Bapa dikenal diseluruh bumi melalui keturunan-keturunanNya.
Ketika Elia melawan nabi-nabi Baal, Elia berdoa, “Jawablah aku ya TUHAN, jawablah aku, supaya bangsa ini “mengenal” (Ibr. “Yadha”) bahwa Engkaulah Allah, TUHAN (Yehova, Elohim), dan Engkaulah yang membuat hati mereka tobat kembali.” (1 Raja-Raja 18:37)
Elia rindu agar Yehova, Elohim, dikenal
dibangsanya. Elia tidak mewakili institusi manapun. Tidak ada nabi
yang sejati berbicara atas nama institusi. Elia hanya mau, TUHAN
Allahnya, menjadi dikenal dan terkenal. Dan merindukan agar umatNya
kembali bertobat dan datang kepada TUHAN.
Menjelang hari-hari kedatangan Tuhan
kita Yesus Kristus, marilah kita sepakat untuk memakai seluruh kehidupan
kita untuk mengenal Dia dengan benar agar supaya Ia dapat dikenal
melalui hidup kita, Dia yang menjadi terkenal. Dia yang
bertambah-tambah dan kita yang berkurang-kurang. Sehingga kita dipenuhi
dengan seluruh kepenuhanNya dan dunia dapat melihat pribadiNya didalam
hidup kita. Saya ingin mengutip motto Almarhum ayah saya yang ia
hidupi, “To Know Him and To Make Him Known.”
Tidak ada motivasi dan ambisi lain didalam hidupnya kecuali ingin untuk
lebih lagi mengenal Tuhan dengan benar agar Tuhan dapat dikenal melalui
kehidupannya.
Apapun pencapaian didalam kehidupan
kita, didalam keluarga, didalam pergaulan, didalam pekerjaan, didalam
usaha, didalam pelayanan, didalam panggilan, jika didasari dari
pengenalan kita akan Tuhan dengan benar maka semua memiliki tujuan hanya
untuk membuat Tuhan dikenal.
Alangkah ironisnya jika kita berpikir
kita telah mengenal Tuhan, tetapi pada akhir hidup kita Tuhan berkata,
“Aku tidak pernah mengenal kamu ! Enyahlah daripadaKu, kamu sekalian
pembuat kejahatan !”
Tuhan mengenal siapa kepunyaanNya (2 Timotius 2:19), yaitu mereka yang mengenal Tuhan dan melakukan kehendakNya.
(BPP/0413)
(BPP/0413)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar