Selasa, 30 Juli 2013

TINGGAL DALAM HADIRAT TUHAN

Sebagai kehidupan Kristen kita tidak bisa jauh dari hadirat Tuhan, sebab tanpa hadirat Tuhan kehidupan rohani kita tidak akan mendapatkan kekuatan.
Tenggelam dalam hadirat-Nya itu seperti busa atau spons yang dicelupkan ke dalam air, secara pelan-pelan air itu akan merembes ke dalam busa. Saat kita masuk dalam hadirat Tuhan, hadirat Tuhan akan merembes dalam kehidupan kita, memenuhi seluruh hati dan hidup kita. Semakin dalam kita tenggelam, ‘air’ Roh-Nya semakin membanjiri hati kita; menguasai hati kita dan memimpin setiap langkah kita, ke arah mana kita seharusnya melangkah.
Ada tokoh-tokoh di dalam Alkitab yang begitu menyukai, mencintai dan merindukan hadirat Tuhan bahkan selalu mencari Tuhan dalam hidupnya.
1.   YAKUB Apa rahasia Yakub; sampai-sampai berkat kesulungan itu jatuh padanya, padahal dia bukan anak yang sulung? Mengapa bukan Esau padahal Esau adalah anak yang sulung? Karena ternyata Yakub punya satu kesukaan. 
Kejadian 25 : 27  “Lalu bertambah besarlah kedua anak itu: Esau menjadi seorang yang pandai berburu, seorang yang suka tinggal di padang, tetapi Yakub adalah seorang yang tenang, yang suka tinggal di kemah.”
Ternyata Yakub suka akan hadirat Tuhan. Satu-satunya kerinduan Yakub adalah bersekutu dengan Tuhan di dalam kemah. Yakub sangat menyukai hadirat Tuhan. Itu sebabnya Yakub selalu tinggal di dalam kemah; seperti yang tertulis di dalam Bilangan 24:5,  “Alangkah indahnya kemah-kemahmu hai Yakub.” 
Mengapa kemah Yakub itu dikatakan indah? Karena Yakub adalah pribadi yang suka mencari hadirat Tuhan. Lewat persekutuannya dengan Tuhan di dalam kemah, ia bisa merasakan hadirat Tuhan. Kalau kita rindu mempunyai kehidupan yang indah di hadapan Tuhan, syaratnya hanya satu : MENYUKAI HADIRAT TUHAN. 
Kemah di sini berbicara tentang waktu khusus kita bersama dengan Tuhan. Jika kita sudah tidak punya saat-saat khusus lagi dengan Tuhan, kita bisa menjadi seperti Esau, menjadi kehidupan yang ditolak.
Mari kita renungkan, mengapa Esau ditolak saat akan diberkati? Karena kerinduan Esau adalah berburu. Esau suka berburu binatang dan kehidupan yang menyukai berburu menunjuk kepada kehidupan yang suka mencari kesenangan daging. Lalu, apa yang menjadi kesukaan kita? Apakah kita lebih senang berburu, mencari kesenangan daging atau lebih baik berdiam dalam kemah mencari hadirat-Nya? 
2. DAUDMazmur 84:10a “Lebih baik satu hari dipelataranMu Tuhan daripada seribu hari di tempat lain.”
Kalimat tersebut dituliskan oleh Daud dalam kitab Mazmur. Bila kalimat tersebut diucapkan oleh seorang yang biasa-biasa yang hidupnya sederhana, mungkin kelihatannya itu wajar-wajar saja dan tidak ada istimewanya. Tetapi ucapan tersebut keluar dari mulut seorang raja yang memiliki segalanya dan hidup dalam kemewahan. Daud memiliki takhta, istana, harta, dan juga banyak isteri-isteri yang cantik. Tetapi Daud adalah satu pribadi yang luar biasa! Bagi Daud, Tuhan bukanlah hanya sekedar Tuhan tapi Tuhan adalah kekasih dan pujaan hatinya. Sejak masih remaja, Daud sudah mengenal Tuhan dengan baik. Daud adalah orang yang berkenan kepada Tuhan bahkan Yesus sendiri disebut anak Daud.
Banyak orang Kristen yang tidak menyediakan waktu khusus buat Tuhan. Andaikan berdoa atau bersaat teduh, itu pun dilakukan hanya singkat dan sekedarnya. Bahkan banyak para pelayan atau Hamba Tuhan yang lebih suka melayani daripada bersekutu dengan Tuhan. Itu sebabnya jangan salahkan Tuhan bila hidup mereka mengalami kekalahan dan kekeringan.
Kita harus lebih suka bersekutu dengan Tuhan daripada kegiatan apapun. Hadirat-Nya adalah tempat terindah di dunia ini. Kedudukan, popularitas, harta, kerabat, sahabat, pelayanan dan keluarga tidak bisa menjadi pengganti dari kepuasan hadirat Tuhan. Maukah kita menjadi seperti Daud? Maukah kita disebut orang yang berkenan kepada Tuhan? Rahasianya adalah MENCINTAI HADIRAT TUHAN.
Apakah kita bisa berkata: “Lebih baik satu hari di pelataran Tuhan daripada seribu hari (3 tahun) di tempat lain?” Apakah kita mau mencintai hadirat Tuhan lebih daripada apapun di dunia ini? Ingatlah di Surga nanti kita juga akan berdiam dalam hadirat Tuhan yang begitu indah. Itu sebabnya mulailah menghormati dan mencintai hadirat Tuhan saat kita ada di bumi ini.
3. SAMUELSamuel masih kecil, tetapi ada satu hal yang ia rindukan, itulah hadirat Tuhan. Terbukti Samuel ini tidur dekat Tabut, tidur dalam Ruangan Maha Suci (1 Samuel 3:3). Tabut Tuhan berbicara tentang HADIRAT Tuhan sebab Tabut itu letaknya ada di dalam Ruangan Maha Suci, ruangan yang diterangi oleh sinar kemuliaan Tuhan.
Orang yang selalu merindukan hadirat Tuhan pasti peka terhadap suara Tuhan, itulah sebabnya Tuhan berbicara kepada Samuel, Tuhan tidak berbicara kepada imam Eli. Apa artinya seorang imam kalau Tuhan tidak berbicara kepadanya? Apa jadinya seorang imam tetapi tidak peka terhadap suara Tuhan? Padahal seharusnya imam itu mempunyai kehidupan yang sangat dekat dengan hadirat Tuhan.
Imam Eli telah menyia-nyiakan panggilannya sehingga Tuhan mengalihkannya kepada orang lain. Itu sebabnya jangan relakan hidup kita kehilangan hadirat Tuhan, jangan sampai kita jauh dari hadirat Tuhan. Kehidupan Kristen yang sudah tidak merindukan hadirat Tuhan, yang hidupnya sudah jauh dari Tabut Perjanjian maka di hadapan Tuhan kehidupan itu bagaikan sudah mati. Apa yang bisa dilakukan oleh orang mati? Tidak ada! Berarti kehidupan itu sudah tidak berguna lagi baik bagi Tuhan maupun bagi manusia!
Oleh sebab itu janganlah kita menjadi seperti imam Eli, sebab apa artinya kita menjadi pelayan Tuhan tapi hidup kita jauh dari hadirat Tuhan? Apa artinya kita menjadi imam-imam yang melayani di dalam rumah Tuhan tapi hidup kita tidak lagi merindukan hadirat Tuhan? Biarlah kerinduan itu tetap ada dalam hati kita. 
Esau yang suka berburu daging, akhirnya ditolak. Eli juga ditolak, karena hidupnya sudah dipenuhi dengan kesukaan akan daging, kesukaan Eli adalah makan, suka akan daging. Menyukai perbuatan daging membuat kita jauh dari hadirat Tuhan namun jika kesukaan kita adalah bersekutu dengan Tuhan maka ini akan membuat kita semakin dekat dan semakin mengenal Tuhan sampai kita pun bisa merasakan sinar kemuliaan Tuhan yang begitu dahsyat. Tuhan selalu rindu untuk berbicara dengan kita namun seringkali kita tidak peka akan apa yang sedang Ia katakan kepada kita.
Kalau kita mengalami pertemuan dengan hadirat Tuhan, maka itu akan terlihat jelas dalam tingkah laku dan wajah kita. Orang lain akan melihat kemuliaan Tuhan dari wajah kita. Seperti yang terjadi pada Musa, ketika Musa melihat kemuliaan dan hadirat Tuhan di gunung Sinai, ia turun dengan wajahnya yang bercahaya seperti terang bahkan orang-orang tak dapat memandang wajahnya. 
“Ketika Musa turun dari gunung Sinai --kedua loh hukum Allah ada di tangan Musa ketika ia turun dari gunung itu--tidaklah ia tahu, bahwa kulit mukanya bercahaya oleh karena ia telah berbicara dengan TUHAN.” (Keluaran 34:219)
Healing Quote :“Bawalah aku berjalan dalam kebenaran-Mu dan ajarlah aku, sebab Engkaulah Allah yang menyelamatkan aku, Engkau kunanti-nantikan sepanjang hari.” (Mazmur 25:5)

1 komentar: