Rabu, 31 Juli 2013

Pujian Dan Penyembahan Yang Berkuasa

Kisah Para Rasul 16:25-31 : “Tetapi kira-kira tengah malam Paulus dan Silas berdoa dan menyanyikan puji-pujian kepada Allah dan orang-orang hukuman lain mendengarkan mereka. Akan tetapi terjadilah gempa bumi yang hebat, sehingga sendi-sendi penjara itu goyah; dan seketika itu juga terbukalah semua pintu dan terlepaslah belenggu mereka semua. Ketika kepala penjara itu terjaga dari tidurnya dan melihat pintu-pintu penjara terbuka, ia menghunus pedangnya hendak membunuh diri, karena ia menyangka, bahwa orang-orang hukuman itu telah melarikan diri. Tetapi Paulus berseru dengan suara nyaring, katanya: ‘Jangan celakakan dirimu, sebab kami semuanya masih ada di sini!’ Kepala penjara itu menyuruh membawa suluh, lalu berlari masuk dan dengan gemetar tersungkurlah ia di depan Paulus dan Silas. Ia mengantar mereka ke luar, sambil berkata: ‘Tuan-tuan, apakah yang harus aku perbuat, supaya aku selamat?’ Jawab mereka: ‘Percayalah kepada Tuhan Yesus Kristus dan engkau akan selamat, engkau dan seisi rumahmu.’”

Pujian dan penyembahan yang powerful berbicara mengenai pujian dan penyembahan yang mendatangkan Hadirat Tuhan yang berdampak terhadap orang atau pun daerah yang ada di sekitar kita. Dampaknya bermacam-macam, dapat berupa manifestasi seperti yang dialami Paulus dan Silas. Hari-hari ini lewat pujian dan penyembahan juga terjadi manifestasi kesembuhan dari sakit penyakit, kelepasan dari ikatan roh jahat, dll. Yang terpenting di sini bukanlah manifestasinya, tetapi dampak dari manifestasi itu sendiri, yaitu membawa kita semakin dekat dan intim dengan Tuhan, dan di dalamnya terdapat pertobatan yang sungguh-sungguh kepada Tuhan.
Ada sebuah kesaksian pada saat seorang pemuda yang belum mengenal Tuhan Yesus sedang berjalan di sebuah Mall pada suatu hari Minggu, dia digerakkan oleh Tuhan untuk menaiki lift menuju ke sebuah gereja yang ada di Mall tersebut. Dia merasakan ada sesuatu yang menjamah hidupnya bahkan sejak di dalam lift. Pada saat lift terbuka tepat di lantai yang dituju di mana sedang berlangsung pujian dan penyembahan dalam gereja itu, tiba-tiba pemuda ini melihat ada sebuah sinar terang dan pada saat itu juga ia dijamah oleh kuasa Roh Kudus, lalu menyerahkan hidupnya sepenuhnya kepada Tuhan Yesus.
Pujian dan penyembahan yang powerful tidak terpengaruh terhadap kecanggihan alat musik yang dimainkan, bukan juga mengenai kehebatan skill dalam menyanyi dan bermain musik, melainkan tergantung kepada sikap hati sang penyembah yang senantiasa hidup dalam pujian dan penyembahan setiap hari. Itulah yang akan menentukan apakah pujian dan penyembahan yang kita naikkan powerful atau tidak. Pujian dan penyembahan yang powerful terkadang tidak berhubungan dengan volume suara yang tinggi, meskipun dalam suasana tertentu kita harus memuji dan menyembah Tuhan dengan volume suara yang tinggi, misalnya: dalam suasana terobosan (breakthrough) atau peperangan rohani, dalam suasana deklarasi, dalam suasana sukacita, dll. Tetapi, dalam suasana keintiman pun kita dapat menyembah Tuhan dengan ketenangan. Bahkan ada seorang hamba Tuhan yang berkata bahwa penyembahan yang tertinggi ialah silent worship di mana kita hanya memandang Tuhan dan menikmati HadiratNya dalam suasana yang sangat kuat.
Marilah kita hidup menjadi penyembah yang senantiasa memuji dan menyembah Tuhan siang dan malam, sehingga membawa dampak yang luar biasa terhadap orang dan daerah di sekitar kita sampai REVIVAL (KEBANGUNAN ROHANI) terjadi. Amin

KUNCI ALAMI KEMULIAAN TUHAN

II Tawarikh 5 : 1 – 14
 Sering kita datang ke suatu ibadah pujian dan penyembahan, mengharapkan Kemuliaan Tuhan turun atas ibadah kita seperti yang terjadi pada kisah pentahbisan Bait Salomo.
“Lalu para peniup nafiri dan para penyanyi itu serentak memperdengarkan paduan suaranya untuk menyanyikan puji-pujian dan syukur kepada Tuhan. Mereka menyaringkan suara dengan nafiri, ceracap dan alat-alat music sambil memuji Tuhan dengan ucapan: ”Sebab Ia Baik! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setiaNya.”  Pada ketika itu rumah itu, yakni rumah Tuhan, dipenuhi awan, sehingga imam imam itu tidak tahan berdiri untuk menyelenggarakan kebaktian oleh karena awan itu, sebab kemuliaan Tuhan memenuhi rumah Allah.”
Kita berpikir bahwa Kemuliaan Tuhan akan turun saat kita menyanyikan Pujian dan Penyembahan dengan penuh semangat, tetapi sayangnya, hal itu tidak sepenuhnya benar.
Kalau kita lebih teliti membaca Firman Tuhan ini, Saya melihat kunci untuk kita dapat mengalami Kemuliaan Tuhan adalah pada ayat 6 : “tetapi Raja Salomo dan segenap umat Israel yang sudah berkumpul di hadapannya, berdiri di depan tabut itu dan mempersembahkan kambing domba dan lembu sapi yang tak terhitung banyaknya.”
Disebutkan kalimat “tak terhitung banyaknya” menunjuk kepada suatu kondisi dimana ada orang yang berusaha untuk menghitung persembahan korban waktu itu,  namun ketika persembahan tersebut sangat banyak, mereka berhenti menghitungnya. Saya percaya Alkitab pasti akan mencatat secara detail jumlah persembahan tersebut, seperti yg pernah dicatat saat Raja Daud mempersembahkan barang-barang berharga untuk pembangunan Bait Suci itu (1 Taw 29:1-9).
Anda merindukan kemuliaan Tuhan turun dalam hidupmu? Mulailah dengan memberi persembahan kepada Tuhan sampai dirimu merasakan sakit, itulah yang dinamakan KORBAN. Saat itulah hati kita akan berteriak : “Tuhan, semua berkat jasmani, uang yang aku punya, tidak ada artinya lagi, hanya Engkau Tuhan yang berarti dalam hidup kita. Engkaulah pemilik hidupku.”
Saya sangat bersyukur saat Gembala kita mengajarkan kita untuk menabur dan memberi dengan sukacita, karena hal ini membentuk hati saya menjadi seorang yang suka memberi, suka menabur untuk pekerjaan Tuhan, yang pada akhirnya membentuk kita menjadi serupa dengan karakter Kristus. Membuang semua karakter kikir, cinta uang, egoistis dalam hati saya.
Matius 6:21 berkata, dimana hartamu berada, disitu hatimu berada. Saat kita serahkan harta kita ke dalam tangan Tuhan, kita bawa ke dalam rumah Tuhan, maka dapat dipastikan, hati kita akan selalu ada dalam hadiratNYA.
Pada akhirnya, sebuah persembahan yang penuh dengan pengorbanan disertai dengan Pujian dan penyembahan kepada Tuhan yang berapi-api, dipastikan akan membawa kemuliaan Allah ke dalam kehidupanmu.

KUASA PUJI-PUJIAN

Berfirmanlah TUHAN kepada Yosua: ".. Haruslah kamu mengelilingi kota itu, yakni semua prajurit harus mengedari kota itu sekali saja; demikianlah harus engkau perbuat enam hari lamanya, dan tujuh orang imam harus membawa tujuh sangkakala tanduk domba di depan tabut. Tetapi pada hari yang ketujuh, tujuh kali kamu harus mengelilingi kota itu sedang para imam meniup sangkakala. Apabila sangkakala tanduk domba itu panjang bunyinya dan kamu mendengar bunyi sangkakala itu, maka haruslah seluruh bangsa bersorak dengan sorak yang nyaring, maka tembok kota itu akan runtuh, lalu bangsa itu harus memanjatnya, masing-masing langsung ke depan." – Yosua 6: 1-5
Memasuki bulan Agustus, bulan kemerdekaan bagi bangsa Indonesia, saya percaya kita tidak hanya merayakan hari kemerdekaan secara fisik saja, tetapi kita pun akan melihat dan merayakan kemerdekaan secara rohani terjadi di dalam kehidupan kita secara pribadi maupun di dalam kehidupan bangsa ini.
Berkenaan dengan hal ini, Tuhan memberikan ayat-ayat dalam Yosua pasal yang ke enam untuk kita renungkan bersama-sama. Kita akan merenungkan bagaimana tembok yang luar biasa besar dan tebal nya itu dapat diruntuhkan (Menurut para ahli arkeologi, tebal dari tembok Yerikho adalah kurang lebih setebal enam meter; dapat dilalui oleh dua buah kereta kuda secara berdampingan).
Pelajaran pertama yang dapat kita ambil dari peristiwa ini adalah adanya kerjasama antara manusia dengan Tuhan. Tuhan mau dan ingin agar tembok tersebut runtuh, agar umat-Nya dapat menguasai dan menduduki kota tersebut. Tapi untuk tembok itu runtuh, umat Israel harus mengikuti instruksi atau perintah-perintah yang disampaikan oleh Tuhan. Tanpa ketaatan mereka untuk mengikuti tuntunan / perintah-perintah Tuhan niscaya tembok yang tebal tersebut tak akan runtuh.
Untuk tembok itu runtuh maka hal pertama yang bangsa Israel harus lakukan adalah mengelilingi tembok tersebut dengan membawa serta tabut perjanjian Allah. Pada jaman itu tabut perjanjian Allah selalu berbicara mengenai kehadiran Tuhan. Jadi untuk melihat tembok-tembok dalam kehidupan kita dan bangsa kita diruntuhkan maka kita perlu menyertakan kehadiran Tuhan dalam setiap masalah atau problema yang sedang kita hadapi. Firman Tuhan berkata dalam Mazmur 22:4 bahwa Tuhan Allah Israel bersemayam di atas puji-pujian umat-Nya.
Kita perlu meninggikan Tuhan di atas setiap masalah /persoalan kita. Pada waktu kita memuji-muji dan meninggikan Tuhan, iman kita sedang diangkat untuk melihat bahwa Tuhan lebih besar dari masalah kita; bahwa Dia sanggup untuk menyelesaikan setiap persoalan kita. Iman inilah yang akan mendatangkan mujizat dalam hidup kita. Iman juga lah yang membuat kita menjadi tenang saat kita menghadapi persoalan.
Tetapi Yosua telah memerintahkan kepada bangsa itu, demikian: "Janganlah bersorak dan janganlah perdengarkan suaramu, sepatah katapun janganlah keluar dari mulutmu sampai pada hari aku mengatakan kepadamu: Bersoraklah! --maka kamu harus bersorak." – Yosua 6:10
Melalui Yosua, Tuhan memerintahkan kepada pasukan Israel untuk tidak boleh mengeluarkan sepatah kata pun selain daripada sangkakala yang ditiup terus menerus. Mengapa Tuhan melarang bangsa Israel untuk berkata-kata selain daripada meniup sangkakala?
Kecenderungan kita sewaktu kita menghadapi persoalan /permasalahan yang sulit adalah berkeluh kesah. Keluh kesah, gerutu, sungut-sungut adalah lawan dari iman. Iblis – musuh kita, ingin kita fokus pada masalah dan kekurangan kita. Dan saat kita berfokus kepada masalah /persoalan, kita akan kehilangan fokus kita akan kebesaran Tuhan, dan kita akan kehilangan iman kita. Itulah sebabnya Tuhan melarang bangsa Israel berkata-kata sewaktu mengelilingi tembok Yeriko.
Tembok Yerikho tidak runtuh karena kehebatan atau kekuatan pasukan Israel, tetapi tembok itu runtuh karena ketaatan mereka akan perintah Tuhan. Tembok Yerikho runtuh pada hari ke-tujuh dan pada putaran ke-tujuh. Angka tujuh selalu menunjuk kepada Kesempurnaan. Tembok tersebut runtuh pada waktu Tuhan yang sempurna (God’s perfect time). Tetapi angka tujuh juga selalu berbicara tentang Sabat – peristirahatan. Bukan kuat, bukan gagah, tapi oleh Roh-Ku, kata Tuhan (Zak 4:6). Marilah kita masuk ke dalam kemampuannya Tuhan dan beristirahat di dalamnya, dengan apa? Dengan banyak memuji dan menyembah Nya, tinggal dalam hadirat-Nya. Pada waktu kita memuji dan membesarkan nama-Nya maka kita akan melihat Tuhan keluar berperang ganti kita, tembok-tembok raksasa runtuh di hadapan kita. Kelimpahan, kesembuhan, promosi dan tuaian menjadi bagian kita. Selamat menerimanya. MERDEKA… Mujizat itu masih ada. TUHAN YESUS MEMBERKATI.

Memahami Otoritas Rohani

Yohanes 8:32 berkata “dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu.”
Satu-satunya kekuatan yang dimiliki Iblis adalah “penyesatan / penipuan”, dan yang paling buruk dari sebuah penyesatan adalah “anda tidak tahu bahwa anda tersesat”, jika anda mengetahuinya, hal tsb bukanlah suatu “penyesatan” lagi. Sekali anda mengenal dan menerima “kebenaran”, kuasa penyesatan kehilangan kekuatannya. Karenanya, Iblis akan kehilangan semua kekuatannya saat kita mengenal “kebenaran”. Itu juga yang menjadi alasan utama mengapa Iblis bekerja super keras dan giat untuk membuat orang percaya tidak dapat mengenal “kebenaran” yang sesungguhnya!
Banyak orang belum mengetahui kebenaran bahwa sesungguhnya: Iblis TELAH DIKALAHKAN! Bahkan pada kenyataannya, kebanyakan Kristen menjadi alat Iblis untuk memperkuat penyesatan sehingga Iblis menjadi tampak lebih hebat dan kuat dari sebenarnya. “Peperangan Rohani” adalah salah satu subjek terpanas dalam gereja hari” ini. Kristen banyak menghabiskan sumberdayanya untuk berperang melawan Iblis dengan segala cara yang justru berlawanan dengan kebenaran Firman Tuhan, pada kenyataannya, Iblis sudah DIKALAHKAN!
Sesuai dengan Ibrani 2:14 (Karena anak-anak itu adalah anak-anak dari darah dan daging, maka Ia juga menjadi sama dengan mereka dan mendapat bagian dalam keadaan mereka, supaya oleh kematian-Nya Ia memusnahkan dia, yaitu Iblis, yang berkuasa atas maut;) kita perlu percaya bahwa Iblis sudah benar” dihancurkan. Kekuatan satu”nya yang dia miliki saat ini adalah “penyesatan”. Karena itu peperangan kita harusnya ditujukan kepada “kelicikan Iblis” (Ef 6:11 Kenakanlah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat bertahan melawan tipu muslihat Iblis;) bukannya terhadap si Iblis itu sendiri. Pendekatan lainnya yang tidak sesuai dengan Firman akan memberikan Iblis otoritas dan kuasa yang sesungguhnya tidak dia miliki, dan akan digunakannya untuk balik mengintimidasi kita. SATU-SATUNYA SENJATA IBLIS YANG DIMILIKINYA ADALAH KUASA YANG KITA BERIKAN KETIKA KITA PERCAYA
KEBOHONGANNYA.
Peperangan hanya terjadi diantara dua pihak yang belum terkalahkan. Sekali pihak yang satu mengalahkan pihak lainnya maka perang telah selesai. Iblis adalah pihak yang dikalahkan.
Kolose 2:15 berkata: Ia telah melucuti pemerintah-pemerintah dan penguasa-penguasa dan menjadikan mereka tontonan umum dalam kemenangan-Nya atas mereka. Arti kata “melucuti” disini adalah “menjarah, merampas”. Hal ini berarti setelah Yesus mengalahkan Iblis, dia mengambil apapun yang Iblis miliki, khususnya “kunci kerajaan maut dan neraka” (Wahyu 1:18… 18 dan Yang Hidup. Aku telah mati, namun lihatlah, Aku hidup, sampai selama-lamanya dan Aku memegang segala kunci maut dan kerajaan maut.) Iblis tidak lagi punya kuasa untuk memenjarakan orang.
Dalam bahasa asli Yunaninya, kata “tontonan” diatas adalah “deigmatizo” yang berarti “memperlihatkan
kpd publik”. Kata ini berasal dari kata “deigma” yang berarti “suatu specimen”. Jadi maksudnya adalah: Iblis telah dibuat menjadi seperti salah satu serangga dalam praktek pelajaran biologi kita dulu di sekolah. Kita menangkap serangga tsb kemudian kita tusuk dengan jarum pada lembaran kertas kita dan memperlihatkan kepada orang lain menjadi bahan praktek biologi kita. Kita perlu menggambarkan keadaan seperti itu kpd Iblis sesuai kebenaran Firman Tuhan. Haleluyah….!
Kata Yunani yang dipakai untuk menjelaskan “kemenangan” dalam ayat di atas sangatlah benar” signifikan. Arti kata tsb adalah “untuk membuat prosesi kemenangan”. Hal ini khususnya menggambarkan cara orang Romawi dulu dalam melakukan “prosesi kemenangan perang mereka”. Setelah mereka mengalahkan musuh” mereka.
Setelah mengalahkan musuh-musuhnya, orang Romawi membuat suatu parade kemenangan. Mereka akan membawa raja yang mereka kalahkan, menelanjanginya dan menariknya keluar melewati kerumunan orang supaya mereka semua melihat raja atau pemimpin yang mereka sudah kalahkan tsb. Raja yang dikalahkan tsb akan dipermalukan dan dihina, tapi itu belum selesai. Orang Romawi akan memotong jempol dari kedua tangan dan kakinya. Hal ini menjamin bahwa musuhnya tsb tidak akan pernah lagi menjadi ancaman buat mereka. Dia tidak dapat lagi memegang pedang atau berlari lagi. Jadi tidak ada alasan lagi untuk takut . Semua cerita-cerita yang menakutkan ttg raja yang telah kalah tsb tidak akan lagi mempengaruhi rakyat, karena mereka semua telah melihat dalam parade tsb bagaimana nasib raja yang telah kalah tsb.
Hal yang sama terjadi juga kpd Iblis. Itulah yang dijelaskan dalam ayat Kol 2:15. Tuhan Yesus tidak hanya mengalahkan Iblis, tapi Yesus telah membuat parade kemenangan untuk mempertontonkan kepada alam semesta bahwa Iblis secara total telah dikalahkan. Iblis tidak akan pernah lagi menakutkan kita. Hanya sayangnya, banyak orang Kristen tidak hadir dalam parade kemenangan itu. Mereka tidak melihat bagaimana Tuhan membuat parade kemenangan dalam Firman Tuhan tsb, bahkan mereka menyebarkan isu bahwa Iblis adalah musuh yang kuat dan menakutkan yang sesungguhnya TIDAKLAH BENAR!
Iblis memang masih hidup, dan kita masih harus berhadapan dengannya tapi hanya karena Iblis telah banyak mempengaruhi orang banyak dengan rumors dan issue ttg kebohongannya. Itu semua BOHONG, dan itulah letak kekuatan Iblis. Jika kita percaya kebohongannya, maka Iblis akan menggunakan otoritas yang sesungguhnya milik kita, karena ketakutan maka kita memberikan otoritas yang milik kita untuk justru membuat kehancuran dalam diri kita sendiri. Sesungguhnya dari dirinya sendiri Iblis sudah tidak lagi miliki kuasa apapun. Iblis hanya menggunakan kuasa dan otoritas karena kita kurang memahami kebenaran Firman Tuhan secara utuh.
Kita perlu memahami kebenaran dalam Efesus 6:10-18 (demikian Firman Tuhan: Akhirnya, hendaklah kamu kuat di dalam Tuhan, di dalam kekuatan kuasa-Nya. Kenakanlah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat bertahan melawan tipu muslihat Iblis; karena perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging, tetapi melawan pemerintah-pemerintah, melawan penguasa-penguasa, melawan penghulu-penghulu dunia yang gelap ini, melawan roh-roh jahat di udara. Sebab itu ambillah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat mengadakan perlawanan pada hari yang jahat itu dan tetap berdiri, sesudah kamu menyelesaikan segala sesuatu. Jadi berdirilah tegap, berikatpinggangkan kebenaran dan berbajuzirahkan keadilan).

Nyanyian Pujian Maria

Lukas 1 : 47 – 55
“Jiwaku memuliakan Tuhan, dan hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku, sebab Ia telah memperhatikan kerendahan hambaNya.
(48) Sesungguhnya, mulai dari sekarang segala keturunan akan menyebut aku berbahagia, karena Yang Mahakuasa telah melakukan perbuatan-perbuatan besar kepadaku dan namaNya adalah kudus.”
Manusia adalah makluk tertinggi derajatnya dibandingkan dengan makluk lain, karena manusia memiliki tujuan hidup. Ada tujuan yg sementara, ada juga tujuan akhir bagi manusia.
Para filsuf terkenal dunia berkata, Tujuan akhir manusia adalah kebahagiaan.
Maria memuji Tuhan  dan berkata bahwa “aku berbahagia” di tengah-tengah situasi dan kondisi dia waktu orang mengetahui bahwa dia mengandung seorang bayi tanpa suami, dimana dia terancam dapat dirajam batu karena dituduh berzinah dan dia harus mengungsi dan meninggalkan kotanya.
Maria percaya bahwa di dalam dirinya, terkandung sumber bahagia itu. Kebahagiaan itu bukan sesuatu yang dicari, tapi sesuatu yang diberikan. Dan kita semua telah menerima Sang Sumber bahagia itu.
Pertanyaannya; kalau Sang Sumber bahagia itu ada di dalam kita, mengapa kita masih bisa takut, kuatir? Karena kita sering memandang kebahagiaan itu kita mendapatkannya dari dunia, dari luar diri kita dan karena kita sering lupa bahwa Dia, Yesus, sang pengharapan akan kemuliaan itu tinggal di dalam kita.
Seperti Maria, kita “mengandung” kebahagiaan itu dalam diri kita, dan seharusnya semua perkataan dan tindakan kita mencerminkan kebahagiaan itu.  Kita juga harus “mengandung” iman yang besar, miliki iman yang kuat, supaya kita dapat melihat perbuatanNya yang besar dilakukanNya bagi kita (ayat 49).
Kata “rahmatNya” dalam Lukas 1:50 mempunyai arti yang sama dengan kata”rahmat” dalam Yohanes 3:16 yang berkata “Karena begitu besar kasih / rahmatNya kepada kita”, yang artinya bukan hanya terbatas pada keselamatan dan memiliki hidup yang kekal, tetapi juga memiliki arti “Keselamatan Sekarang” dimana saat ini juga kita dapat menikmati kebahagiaan itu, saat kita percaya kepada Yesus Tuhan dengan segenap hati. Yohanes 3:18 Saat kita tidak percaya, kita berada di bawah hukuman, tapi bukan Tuhan menghukum, melainkan system dunia yang akan menghukum kita dengan nilai-nilai dunia yang menyesatkan.
Kasih setia dalam bahasa Ibrani disebut dalam satu kata yang berbunyi : Hezed, artinya Kasih dan setia Tuhan dalam hidup kita tidak akan pernah terpisahkan, DIA akan tetap setia kepada kita dan tetap menggenapi janjiNya. Haleluya. Amin.

GAYA HIDUP ANAK ALLAH

Semua orang, yang dipimpin Roh Allah, adalah anak Allah. Sebab kamu tidak menerima roh perbudakan yang membuat kamu menjadi takut lagi, tetapi kamu telah menerima Roh yang menjadikan kamu anak Allah. Oleh Roh itu kita berseru:ya Abba, ya Bapa! Roh itu bersaksi bersama-sama dengan roh kita, bahwa kita adalah anak-anak Allah. (Roma 8: 14-16)
Ketika kita menerima Tuhan Yesus masuk ke dalam hati kita, maka Roh Kudus lah yang mendiami hati kita. Dia datang membawa hidup kekal, melahirkan kita kembali jadi anak Allah dan kita menjadi ciptaan baru. Namun kita tidak langsung menyadari identitas kita dengan benar sebagai anak Allah. Iblis mengambil keuntungan untuk membohongi di area yang belum kita mengerti dengan benar. Ketika kebohongan kita percayai, perbudakan terjadi. Iblis menaruhkan roh perbudakan di dalam orang yang tidak mengenali identitasnya sebagai anak-anak Bapa di surga. Buahnya adalah: rasa takut, rasa malu, rasa bersalah, rasa tidak layak. Dosa yang diwariskan Adam menjadikan roh perbudakan berkuasa atas kita. Namun Yesus datang memerdekakan kita dan menggantikannya dengan roh yang membuat kita menjadi anak Bapa di surga. Ketika mengerti identitas kita sebagai anak Allah, maka kita tidak lagi akan diperhamba oleh apa yang berasal dari dunia.
Sebagai anak-anak Allah, kita harus terus berlatih untuk membangun gaya hidup dipimpin oleh Roh Allah. “Semua orang, yang dipimpin Roh Allah, adalah anak Allah. Sebab kamu tidak menerima roh perbudakan…”  
Tuhan ingin menuntun kita di jalan yang Dia rancang bagi kita. Mata Tuhan tertuju kepada kita umat kepunyaan-Nya. Karena itu hati yang rela untuk dipimpin dan mempercayakan hidup kita ke dalam tanganNya membuat kita bisa melangkah seirama dengan Tuhan penuh damai sejahtera dan sukacita dari Roh Allah
Seorang yang mengenali identitasnya sebagai milik kepunyaan Tuhan akan lebih mudah menerima apa yang Tuhan katakan mengenai dirinya, sehingga dapat bergerak ke dalam tujuan Tuhan. Seorang yang memberi diri dipimpin Roh Kudus akan menangkap pikiranNya dan mengejar kehendakNya sehingga dapat bergerak seirama denganNya.
Kitab Roma 8:11-16 mengungkapkan apa yang Roh Allah kerjakan dalam kita  supaya kita dapat membangun gaya hidup anak Allah.
Dan jika Roh Dia, yang telah membangkitkan Yesus dari antara orang mati, diam di dalam kamu, maka Ia, yang telah membangkitkan Kristus Yesus dari antara orang mati, akan menghidupkan juga tubuhmu yang fana itu oleh Roh-Nya, yang diam di dalam kamu.
Jadi, saudara-saudara, kita adalah orang berhutang, tetapi bukan kepada daging, supaya hidup menurut daging. Sebab, jika kamu hidup menurut daging, kamu akan mati; tetapi jika oleh Roh kamu mematikan perbuatan-perbuatan tubuhmu, kamu akan hidup.
Semua orang, yang dipimpin Roh Allah, adalah anak Allah.
Sebab kamu tidak menerima roh perbudakan yang membuat kamu menjadi takut lagi, tetapi kamu telah menerima Roh yang menjadikan kamu anak Allah. Oleh Roh itu kita berseru: ya Abba, ya Bapa! Roh itu bersaksi bersama-sama dengan roh kita, bahwa kita adalah anak-anak Allah.    Roma 8:11-16.
Perikop firman Roma 8:11-16 ini membukakan kepada kita untuk mengenali Pribadi Roh Kudus dan karya-Nya dalam mengubah diri kita. Inilah makna yang ada di dalamnya:
1.     Roh Kudus adalah Roh Kebangkitan. Dia ada di dalam kita untuk membangkitkan. Dia telah membangkitkan Tuhan Yesus. Sekarang kuasa kebangkitan yang sama itu telah ada di dalam kita untuk membangkitkan kita. Dari seorang yang tadinya dipengaruhi kematian - [sehingga secara rohani nilainya menjadi merosot], kita diubah untuk hidup di bawah pengaruh kuasa kebangkitan. Roh Kebangkitan menjadikan kita tangguh melewati masa sukar dan memunculkan potensi manusia baru lewat penaklukkan tantangan. Kita dibawa untuk terus meningkat.
2.     Roh Kudus semakin kita kenali saat kita dibentuk ulang. Kuasa kebangkitan dinyatakan melalui karyaNya dalam membangkitkan apa yang telah “diremukkan” [saat pembentukan ulang   diselaraskan dengan Tuhan] dipulihkan kembali.
3.     Kita sekarang berhutang untuk hidup oleh Roh. Berhutang identik dengan terikat kepada yang mempiutangi. Rasa berhutang artinya tidak lagi merasa bebas untuk mengikuti kemauan sendiri, melainkan mengikuti pihak “yang memberi utang.” Berbalik dari keadaan yang aslinya menuruti kedagingan yang membuat kita jadi tawanan dosa, sekarang kita jadi hamba kebenaran. Kita bebas karena ditebus oleh darah Yesus. Selanjutnya kita memiliki hidup baru, roh baru dari Roh Kudus, yang memiliki sifat Roh Kudus. Roh kita yang baru membuat kita mengikuti Tuhan, memberi diri bagi Tuhan dan kesadaran dimiliki Tuhan. Kita diinsyafkan untuk “merasa terikat” kepada Roh Kudus, sehingga menjadi takluk sebagai“tawanan Roh.”
4.     Roh Kudus menjadikan kita anak Allah. Kita diubah dari status budak, jadi putra dan putri Kerajaan Allah. Sebelum diangkat jadi anak Allah, kita dikuasai roh perbudakan karena dosa. Kita tidak berada di bawah tudung kemuliaan Allah. Kita merasa tidak layak, dan tidak punya keyakinan akan jaminan Allah. Kita merasa tidak berdaya, dikungkung oleh keterbatasan alami. Sebagai anakNya, kita dibebaskan dari rasa takut, memiliki kepastian memanggilNya Bapa dalam status dan hubungan Bapa-anak.
5.     Sebagai anak-anak Allah, maka gaya hidup kita adalah mengikuti tuntunan Roh Kudus, artinya selalu hidup dipimpin Roh Kudus.
Tuhan memanggil kita untuk senantiasa berjalan bersamaNya. Roh Kudus yang memimpin kita ke dalam tujuan Illahi. Perjalanan kita adalah dari kemenangan kepada kemenangan yang lebih besar. Ketika menghidupi identitas sebagai anak Allah, kemenangan adalah kepastian yang mutlak, karena Yesus telah terlebih dahulu mengalahkan semua musuh kita. Dari kemenangan yang kita raih dan hidupi, keharuman Kristus akan dirasakan orang lain melalui hidup kita. Hati yang tulus berjalan dan setia melakukan kehendak Bapa membuat keharuman Kristus itu semakin nyata.
Hidup menurut pimpinan Roh Kudus membuat kita hidup: melakukan kehendak Bapa - menuju tujuan Illahi kita - dan setiap hari berjalan dalam kebenaran-Nya.
Kita melangkah bersamaNya untuk terus diubahkan jadi semakin serupa dengan Kristus.

Selasa, 30 Juli 2013

KEJUJURAN YANG MENDATANGKAN BERKAT

Fenomena sosial bangsa saat ini menunjukkan disorientasi nilai yang sangat memprihatinkan. Banyak elite politik korup,masyarakat bermental instan ingin kaya gampang marah serta aparat negara bertindak brutal.
Salah satu akar masalahnya adalah kepemimpinan yang lemah dan tidak mampu memberikan keteladanan ". Demikian tulisan di surat kabar Kompas 9/3/2013. Sebagai umat Tuhan yang dilahirkan dan hidup di tanah air Indonesia kita tidak bisa tinggal diam hanya berpangku tangan atau malah hanyut kedalam tawaran dunia yaitu keinginan mata keinginan daging dan keangkuhan hidup. Tuhan berfirman :" Yesaya 60:1-3Bangkitlah, menjadi teranglah, sebab terangmu datang, dan kemuliaan TUHAN terbit atasmu.
Sebab sesungguhnya, kegelapan menutupi bumi, dan kekelaman menutupi bangsa-bangsa; tetapi terang TUHAN terbit atasmu, dan kemuliaan-Nya menjadi nyata atasmu.
Bangsa-bangsa berduyun-duyun datang kepada terangmu, dan raja-raja kepada cahaya yang terbit bagimu. " Bagaimana hidup yang menjadi terang sehingga bangsa - bangsa akan datang kepada terang Tuhan?
Yaitu dengan kita berlaku " Jujur " , firmanNya menyatakan : " Amsal 11:11 Berkat orang jujur memperkembangkan kota, tetapi mulut orang fasik meruntuhkannya. "
Seorang pensiunan di kota Braunschweig Jerman sangat terkejut ketika ia membeli daging seharga Rp 69.000,- ( dikonversi kemata uang rupiah ) namun ternyata di kantong yang dibawanya pulang berisi uang sebanyak Rp 24.700.000,-. Rupanya secara tak sengaja pegawai toko memberinya bungkusan yang salah , lalu segera ia menelpon polisi dan mengembalikan uang itu sebagai imbalannya atas kejujurannya ia mendapatkan hadiah sekeranjang sosis dan uang Rp 1.200.000,-.
Firman Tuhan dengan jelas menyatakan bahwa kejujuran bukan hanya mendatangkan berkat bagi orang yang bersangkutan saja namun bisa meluas ke lingkungan tempat tinggalnya bahkan sampai kota dan bangsanya. Tindakan yang jujur bersumber dari hati yang tulus , kesediaan untuk mempraktekkan kebenaran dan penghargaan pada proses kerja yang berbuahkan karakter Kristus. Sedangkan orang fasik mengejar hasil yang melimpah secara manipulatif.
Komunitas apapun tidak mungkin maju dan nyaman untuk didiami jika tidak dibangun di atas kejujuran dan ketulusan warganya.
Menurut sebuah survey , keunggulan suatu negara dan kepuasan warganya tidak ditentukan kekayaan alamnya melainkan ditentukan dari bangunan relasi masyarakat yang berlandaskan kerja keras , kepercayaan masyarakat terhadap lembaga pemerintahan dan penegak hukum serta adanya penghormatan terhadap hak asasi manusia.
Apakah saudara rindu bangsa Indonesia menjadi bangsa yang unggul dan diberkati oleh Tuhan? sebagai orang beriman kepada Yesus Kristus  kita harus mengedepankan kejujuran didalam kehidupan keluarga , bekerja , pelayanan , studi dan dalam segala hal maka terang Kristus akan memancar didalam kehidupan kita , kemuliaan Tuhan akan terbit pada umatNya dan membuat bangsa – bangsa akan menyembah Tuhan dan kita akan melihat Indonesia tidak akan pernah sama lagi karena kejujuran mendatangkan berkat sedangkan kefasikan merusak masyarakat .
FM 

MENANG ATAS PENCOBAAN

Setiap orang tidak lepas dari yang namanya pencobaan. Pencobaan dilancarkan oleh iblis (Yakobus 1 : 13) dengan tujuan untuk menjatuhkan kita, tetapi apabila kita menang terhadap pencobaan itu, pencobaan justru menjadi sarana untuk membuat kita naik level dalam hal kerohanian dan keimanan kita. Bagaimana cara kita menang terhadap pencobaan? Gembala Sidang/Pembina menyampaikan pesan Tuhan yang sangat kuat bagaimana kita bisa menang terhadap pencobaan seperti Tuhan Yesus saat DIA dicobai.
1.      Penuh dengan Firman.Penuh dengan Firman Tuhan tentunya bukan berarti kita memenuhi isi kepala kita dengan doktrin-doktrin dan pemahaman teologia dari berbagai aliran yang ada. Belajar teologia adalah hal yang baik, namun penuh dengan Firman Tuhan berarti kita mengisi hidup kita dengan Firman Tuhan, melalui pembacaan Alkitab setiap hari; serta hidup sesuai dengan kebenaran Firman Tuhan.
Yosua 1:8 “Janganlah engkau lupa memperkatakan kitab Taurat ini, tetapi renungkanlah itu siang dan malam, supaya engkau bertindak hati-hati sesuai dengan segala yang tertulis di dalamnya, sebab dengan demikian perjalananmu akan berhasil dan engkau akan beruntung.”
Kalau hidup kita diisi penuh dengan Firman Tuhan, Firman Tuhan akan menuntun langkah kita untuk tetap berjalan dalam jalurnya Tuhan. Sehingga kita dimampukan untuk bertindak hati-hati sesuai dengan segala yang tertulis dalam Firman Tuhan. Saat pencobaan datang dan berusaha menjerumuskan kita untuk menyimpang dari kebenaran Firman Tuhan, kita sudah memiliki bekal untuk bertahan terhadap segala pencobaan itu.
2.      Penuh dengan Roh Kudus.
Efesus 5:18  “Dan janganlah kamu mabuk oleh anggur, karena anggur menimbulkan hawa nafsu, tetapi hendaklah kamu penuh dengan Roh,...”Kalau hidup kita penuh dengan Roh Kudus, kita memiliki kuasa yang besar yang mempukan kita melawan segala bentuk pencobaan yang dilontarkan oleh iblis terhadap kita, sebab Firman Tuhan berkata dalam 1 Yohanes 4 : 4-b  sebab Roh yang ada di dalam kamu, lebih besar dari pada roh yang ada di dalam dunia.
Beberapa ciri yang nampak dari orang yang penuh dengan Roh Kudus adalah sebagai berikut :
  1. Memiliki Buah Roh dalam hidupnya (Galatia 5:  22-24).
  2. Hidup dipimpin Roh Kudus (Galatia 5 : 25).
  3. Tunduk kepada Allah. (1 Korintus 12 : 3).
3.      Memperkatakan Firman Tuhan.
Firman Tuhan adalah pedang Roh (Efesus 6:17), yg merupakan senjata kita dalam peperangan rohani. Saat Tuhan Yesus dicobai, Tuhan Yesus senantiasa melawan serangan iblis dengan mengutip serta memperkatakan Firman Tuhan, dengan mengatakan : “sebab ada tertulis...dan kemudian Tuhan Yesus mengutip ayat Firman Tuhan.
Saat iblis bermaksud mencobai kita, jangan berdiam diri. Lawanlah iblis dengan cara memperkatakan Firman Tuhan. Untuk itu penting sekali bagi kita untuk memiliki ayat-ayat hafalan yang senantiasa dapat kita perkatakan didalam peperangan rohani.

HIDUP LEBIH BERSUNGGUH-SUNGGUH LAGI

“Akhirnya, saudara-saudara, kami minta dan nasihatkan kamu dalam Tuhan Yesus: Kamu telah mendengar dari kami bagaimana kamu harus hidup supaya berkenan kepada Allah. Hal itu memang telah kamu turuti, tetapi baiklah kamu melakukannya lebih bersungguh-sungguh lagi. Tentang kasih persaudaraan tidak perlu dituliskan kepadamu, karena kamu sendiri telah belajar kasih mengasihi dari Allah. Hal itu kamu lakukan juga terhadap semua saudara di seluruh wilayah Makedonia. Tetapi kami menasihati kamu, saudara-saudara, supaya kamu lebih bersungguh-sungguh lagi melakukannya.” (1 Tesalonika 4:1, 9-10)
Di tengah pencurahan Roh Kudus besar-besaran, Tuhan menginginkan agar kita hidup lebih bersungguh-sungguh lagi. Kita harus lebih serius lagi dalam mengikuti Tuhan Yesus. Karena Ia juga serius terhadap kita dengan jalan memberikan nyawa-Nya sendiri untuk menyelamatkan kita dari dosa dan kutuk. Dalam hal apa sajakah kita harus hidup lebih bersungguh-sungguh lagi?
1. Dalam hal hidup berkenan kepada Allah.
“Akhirnya, saudara-saudara, kami minta dan nasihatkan kamu dalam Tuhan Yesus: Kamu telah mendengar dari kami bagaimana kamu harus hidup supaya berkenan kepada Allah. Hal itu memang telah kamu turuti, tetapi baiklah kamu melakukannya lebih bersungguh-sungguh lagi.” (1 Tesalonika 4:1)
Dalam beberapa terjemahan Alkitab berbahasa Inggris, kata ‘berkenan kepada Allah’ banyak diterjemahkan dengan ‘menyenangkan hati Allah’. Jika kita berkata bahwa kita telah menyenangkan hati Allah, maka marilah kita melakukannya dengan lebih bersungguh-sungguh lagi, yaitu dengan cara mendorong – bahkan hingga memaksakan – diri kita melakukan kehendak-Nya. Hiduplah dalam kekudusan. “Karena inilah kehendak Allah: pengudusanmu, yaitu supaya kamu menjauhi percabulan.” (1 Tesalonika 4:3).
2. Yang kedua, dalam hal hidup mengasihi sesama.
“Tentang kasih persaudaraan tidak perlu dituliskan kepadamu, karena kamu sendiri telah belajar kasih mengasihi dari Allah. Hal itu kamu lakukan juga terhadap semua saudara di seluruh wilayah Makedonia. Tetapi kami menasihati kamu, saudara-saudara, supaya kamu lebih bersungguh-sungguh lagi melakukannya.” (1 Tesalonika 4 : 9-10)
“Dan hukum yang kedua ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Tidak ada hukum lain yang lebih utama dari pada kedua hukum ini." (Markus 12:31).
Sesama kita manusia ialah siapa pun tanpa pandang bulu. Di akhir jaman ini kasih kebanyakan orang akan menjadi dingin. Orang tidak lagi hidup mengutamakan kepentingan orang lain di atas kepentingan diri sendiri, tetapi justru lebih menyedihkan lagi, yaitu mengutamakan kepentingan diri sendiri serta menghancurkan orang lain. Jika perlu hanya kepentingan kitalah yang dipenuhi. Hal ini sangat bertentangan dengan hati Tuhan. Di tengah keadaaan ini, marilah kita lebih bersungguh-sungguh mengasihi orang lain dengan cara melihat kebutuhan orang-orang di sekitar kita, sesudah itu mulailah berdoa kepada Tuhan apa yang Ia ingin untuk kita lakukan terhadap orang-orang tersebut. Jika kita melakukannya, maka kita telah menjadi terang dan garam di tengah kegelapan dunia yang semakin gelap ini.
Mengapa kita harus hidup lebih bersungguh-sungguh lagi berkenan kepada Allah dan mengasihi sesama? Karena Tuhan Yesus akan segera datang untuk yang kedua kalinya. Ia mencari mempelai yang kudus/murni, tidak bercacat-cela dan yang dewasa secara mental dan rohani. “Karena kamu sendiri tahu benar-benar, bahwa hari Tuhan datang seperti pencuri pada malam. Apabila mereka mengatakan: Semuanya damai dan aman -- maka tiba-tiba mereka ditimpa oleh kebinasaan, seperti seorang perempuan yang hamil ditimpa oleh sakit bersalin -- mereka pasti tidak akan luput.” (1 Tesalonika 5:2-3). Marilah kita mempersiapkan diri kita untuk kedatangan Tuhan Yesus yang kedua kali yang semakin hari semakin singkat ini. Maranatha! Datanglah Tuhan Yesus! (GAB)
Tuhan Yesus memberkati

KETIKA HATI KITA TEGUH, KITA TIDAK AKAN BIMBANG

Saya percaya di tahun 2013 ini Tuhan sedang membawa kita dalam suatu dimensi rohani yang penuh kuasa, dimana hati kita akan senantiasa dikuatkan, dibentengi dan mempunyai kepekaan akan Kuasa Roh Kudus. Melalui Roh-Nya, Tuhan menarik kita ke dalam pengalaman dari hati ke hati yang sangat intim di mana Tuhan menyelidiki hati kita, menyatakan hal-hal yang tidak berkenan kepada-Nya, membersihkan dan juga menciptakan di dalam diri kita suatu hati yang kuat, teguh, bersih, murni dan sempurna.
Jika hati kita teguh, bersih, murni, kuat dan senantiasa tertuju kepada Tuhan, kita akan kuat secara Rohani. Kita tidak akan ketakutan atau dapat digertak oleh setan atau situasi-situasi yang kita hadapi. Alkitab mencatat tentang seorang yang bernama Kaleb yang memiliki hati yang teguh. Karena hati Kaleb teguh, maka Tuhan menguatkan dan melindunginya. Kaleb mempunyai kekuatan yang sama ketika ia memasuki tanah pejanjian itu empat puluh lima tahun yang lalu di Kadesy Barnea, ketika ia bersiap-siap pergi mengambil alih kekuasaan atas tanah yang Tuhan akan berikan kepada mereka. Ketika laporan-laporan yang jahat itu disampaikan, Kaleb berkata, " Kita akan maju dan menduduki negeri itu, sebab kita pasti akan mengalahkannya!" (Bilangan 13:30 ).
Pada umur delapan puluh lima tahun Kaleb mempunyai kekuatan dan kesiapsiagaan yang sama untuk mengusir musuh dan menduduki Tanah Perjanjian yang sama dengan yang dimilikinya empat puluh lima tahun sebelumnya. Kekuatan dan imannya tidak berkurang dan luntur. Api Allah tetap membara di dalam hatinya!!!
"Jadi sekarang, sesungguhnya Tuhan telah memelihara hidupku, seperti yang dijanjikan-Nya. Kini sudah empat puluh lima tahun lamanya, sejak diucapkan TUHAN firman itu kepada Musa, dan selama itu orang Israel mengembara di padang gurun. Jadi sekarang, telah berumur delapan puluh lima tahun aku hari ini; pada waktu ini aku masih sama kuat seperti pada waktu aku disuruh Musa; seperti kekuatanku pada waktu itu demikianlah kekuatanku sekarang untuk berperang dan untuk keluar masuk. "( Yosua 14:10,11 ).
Selama empat puluh tahun, sementara umat Israel mengembara di padang gurun, Kaleb mempunyai janji Allah yang diberikan kepadanya bahwa ia akan memasuki dan menduduki Tanah Perjanjian. Selama empat puluh tahun pengembaraan dan pengujian itu iman Kaleb tidak goyah. Ia tidak tawar hati, bimbang atau putus asa. Tuhan menguatkan dan menopangnya. Sementara seluruh generasi bangsa Israel dipenuhi dengan ketakutan, ketidakpercayaan dan mati di padang gurun, Kaleb tetap kuat dan tidak dapat digoyahkan!!! Kaleb siap untuk berperang, mengusir musuh dan menduduki tanah yang Tuhan janjikan kepadanya.
Kaleb berkata : "Oleh sebab itu, berikanlah kepadaku pegunungan, yang dijanjikan Tuhan pada waktu itu, sebab engkau sendiri mendengar pada waktu itu, bahwa di sana ada orang Enak dengan kota-kota yang besar dan berkubu. Mungkin Tuhan menyertai aku, sehingga aku manghalau mereka seperti yang difirmankan Tuhan. " ( Yosua 14:12 ). Kaleb berani dan tidak mengenal ketakutan, penuh iman, siap untuk menghadapi musuh karena hatinya teguh dan ia tahu bahwa Allah menyertai dirinya. Tidak ada keragu-raguan, tidak ada kebimbangan!!! Kaleb siap, tidak peduli situasi apapun yang akan dihadapi. Marilah sepanjang tahun 2013 ini kita sungguh-sungguh berusaha untuk memiliki hati yang teguh seperti yang dimiliki Kaleb. Berikan hati kita sepenuhnya kepada Tuhan!!! "Yang hatinya teguh, Kau jagai dengan damai sejahtera, sebab kepada-Mulah ia percaya. "( Yesaya 26:3 ). Kondisi hati kita adalah satu-satunya hal yang paling penting dalam kehidupan kita!!! Entering The Next Level !!!

PERMULAAN BARU

2013 adalah sebuah tahun, “Permulaan Baru.”   Pengertian profetik ini didapat karena angka 13 merupakan angka permulaan baru yang bernilai sama dengan angka 8 atau 1.  Secara Alkitabiah angka 12 dan angka 7 memiliki pengertian yang sama, sebagai angka yang tertinggi atau menyeluruh, dan penuh.  Sebagai contoh yang sederhana, angka 12 merupakan angka tertinggi yang dipakai pada jam dan penanggalan.  Bulan ke 12 merupakan bulan yang terakhir.
SEBUAH PINTU YANG TERBUKA UNTUK MEMASUKI PERMULAAN BARU
Didalam Keluaran 12, ketika Tuhan menyuruh Musa untuk membawa bangsa Israel untuk keluar dari perbudakan di Mesir untuk memasuki sebuah permulaan baru yang dipenuhi dengan janji-janji Tuhan, maka Tuhan menginstitusikan Paskah.   Paskah merupakan pintu memasuki sebuah permulaan baru bagi bangsa Israel baik secara jasmani maupun rohani.  Tanpa Paskah tidak akan pernah ada sebuah permulaan baru yang sejati.  Tuhan katakan kepada Musa, “Bulan ini (mengacu kepada bulan Nisan atau Abib) akan menjadi permulaan segala bulan bagimu; itu akan menjadi bulan pertama bagimu tiap-tiap tahun.”   Tuhan menetapkan bulan Nisan sebagai bulan pertama untuk  menginstitusikan Paskah
“Paskah” adalah sebuah rangkaian peristiwa dari pengorbanan, kematian, kebangkitan Yesus Kristus.  Merupakan manifestasi dari hati dan pikiran Bapa yang dituangkan kedalam sebuah Perjanjian Darah dan diwujud nyatakan didalam puteraNya, Yesus Kristus untuk menyatakan “kekayaan Kasih Karunia-Nya”
Sekalipun “Kasih Karunia Tuhan” dianugerahkan dengan “gratis” namun sangat jauh dari pengertian sesuatu yang diobralkan atau memiliki kesan kurang bernilai.  Justru sebaliknya oleh karena nilainya yang tidak terhingga maka tidak seorang manusiapun yang dapat menghasilkannya, oleh sebab itu hanya oleh kedaulatan-Nya sendiri Tuhan memutuskan untuk menganugerahkan Kasih Karunia kepada umat pilihan-Nya.  Dengan demikian Kasih Karunia Tuhan tidak dapat dianggap sebagai lisensi bagi umat pilihan-Nya untuk tinggal didalam dosa dan pelanggaran.  Roh Kasih Karunia-Nya justru akan membawa umat-Nya menjauh dari segala perbuatan yang tercela dan menjadikan umat-Nya sebagai umat yang lebih dari pemenang di dalam Yesus Kristus.  Roh Kasih Karunia akan membawa umat-Nya kedalam pengenalan akan Dia dan jalan-jalanNya.
Beberapa arti “Kasih Karunia” : 1) karya Tuhan melalui Roh Kudus di dalam hati manusia di dalam meresponi karya penebusan-Nya. 2) Penyampaian kebaikan dan berkat-berkat Tuhan oleh Roh dan melalui Yesus Kristus yang penuh dengan kasih karunia dan kebenaran. 3) Sebuah pemberian “gratis”; pemberdayaan Hadirat Tuhan untuk memampukan kita menjadi sesuai dengan apa yang Ia kehendaki, dan agar kita dapat melakukan panggilan kita.  Kasih Karunia memberi kepada kita kerinduan dan kuasa untuk kita melakukan kehendak-Nya.  4) Kasih Karunia adalah personifikasi hati dan pikiran Bapa di dalam pribadi Yesus Kristus. 5) Berasal dari bahasa Yunani “Charis” artinya perkenanan atau perbuatan baik.
MUSIM BERSEMI
Paskah yang jatuh pada bulan Nisan senantiasa jatuh pada musim semi.  Bangsa Israel akan menambah bulan lompatan sebagai bulan ke-13 (bulan Adar II), apabila terjadi pergeseran yang menyebabkan bulan Nisan atau Hari Raya Paskah orang Yahudi tidak jatuh tepat pada musim semi, sebab ini telah menjadi sebuah ketetapan.  Di musim semi alam mengalami sebuah pembaharuan, setelah melewati musim gugur dan musim dingin. Sebuah pembaharuan di awal musim yang baru. Hujan yang tercurah di musim semi mulai membasahi benih-benih yang ditabur di ladang. Padang belantara terlihat indah karena merekahnya bunga-bunga yang berwarna-warni. Di musim semi terdengar kicauan burung yang indah di padang memuji Sang Pencipta, “Diladang telah nampak bunga-bunga, tibalah musim memangkas; bunyi tekukur terdengar di tanah kita … Bangunlah, manisku, jelitaku, marilah! Merpatiku di celah-celah batu, di persembunyian lereng-lereng gunung, perlihatkanlah wajahmu, perdengarkanlah suaramu ! Sebab merdu suaramu dan elok wajahmu.”!  (Kidung 2:12-14).
MENERIMA BERKAT TUHAN DAN PENGURAPAN-NYA DI MUSIM YANG BARU
Pertama-tama ijinkan Tuhan memperbaharui hati dan pikiran kita agar kita dapat disesuaikan untuk menerima hal-hal yang baru dari Tuhan.  Ingatlah bahwa anggur yang baru memerlukan kantong anggur yang baru.  Lakukan pertobatan sesuai dengan arahan-Nya.  Pertobatan di dalam bahasa Yunani “Metanoia” artinya, berbalik dari jalan-jalan atau cara-cara kita yang lama.  Alami pembaharuan atau perubahan di dalam pola pikir dan hati kita.
Yesus adalah Sang Permulaan Baru. Dialah pintu untuk memasuki sebuah permulaan baru yang sejati. Di dalam perjalanan hidup kita di dalam Kristus ada beberapa fase permulaan baru pada setiap levelnya.  Awal permulaan baru kita adalah ketika kita menerima Dia sebagai Tuhan dan Juru Selamat pribadi kita.  Yesus Kristus adalah pintu menuju setiap fase permulaan baru di dalam hidup kita.  Kasih Karunia-Nya telah tersedia bagi umat-Nya pada setiap permulaan baru.
Percaya dengan iman dan ijinkan Tuhan mendandani setiap kita anak-anak-Nya sesuai dengan kehendak-Nya di musim yang baru. Tuhan mendandani bunga-bunga di padang dan rerumputan dengan indahnya, seperti ucapan Yesus, “Aku berkata kepadamu : Salomo dalam segala kemegahannya pun tidak berpakaian seindah salah satu dari bunga itu.”  Jangan kuatir tentang apapun juga yang kita butuhkan di musim yang baru.
Benih-benih-Nya yang ditabur di musim yang lalu yang telah tersimpan di dalam hati umat-Nya, dan benih-benih baru yang ditabur-Nya di musim ini mulai bergerak dan bermunculan meresponi hujan Roh-Nya di musim semi.  Benih-benih ini adalah firman Tuhan yang dilepaskan dan menjadi rhema di hati umatNya.
Untuk itu karena pintu memasuki sebuah permulaan baru telah terbuka bagi setiap kita, marilah kita dengan penuh keberanian datang menghampiri Takhta Kasih Karunia Tuhan untuk menerima rahmat dan menemukan Kasih Karunia melalui  doa, pujian dan penyembahan kita.
Hal penting yang menjadi kunci di dalam memasuki Tahun Permulaan Baru adalah kembali kepada kasih yang mula-mula saat hati kita berbunga-bunga dipenuhi dengan gairah kasih kita kepada Tuhan.  Jauh sebelum kita dapat mengasihi Dia, Dia terlebih dahulu mengasihi kita.  Di dalam Tahun Permulaan Baru ini Tuhan merindukan persekutuan kita bersama-Nya.  Penuhi Tahun Permulaan Baru dengan kasih kita kepada Tuhan.  Perlihatkan wajah kita dan perdengarkan suara kita di hadapan Takhta Kasih Karunia-Nya.  Semarakkan Tahun Permulaan Baru dengan doa, pujian dan penyembahan yang dipenuhi dengan nyanyian cinta kasih kita kepada Tuhan.
Mari ikuti saya untuk mensyukuri Tahun Permulaan yang Baru : “Bapa, di dalam nama putera-Mu, Tuhan Yesus Kristus, aku mengucap syukur kepada-Mu.  Terima kasih untuk penyertaan-Mu di musim yang lalu dan terima kasih untuk Tahun Permulaan Baru.  Terima kasih untuk pintu yang telah dibukakan bagiku oleh darah anak Domba yang mulia.  Terima kasih untuk rahmat-Mu dan Kasih Karunia-Mu yang dianugerahkan kepadaku.  Terima kasih untuk benih firman-Mu yang tertanam di dalam hatiKu.  Terima kasih untuk hujan Roh Kasih Karunia-Mu.  Terima kasih untuk kasih-Mu dan segala kebaikan-Mu, berkat-berkat-Mu dan pengurapan-Mu atasku.  Aku mengasihi-Mu, Tuhan.  Amin.

MERAIH PENGGENAPAN JANJI ALLAH DI MUSIM BARU

Yosua 21: 45 

"Dari segala yang baik yang dijanjikan Tuhan kepada kaum Israel, tidak ada yang tidak dipenuhi; semuanya terpenuhi." 
Kita sedang berjalan di Tahun Ayin Gimel. Di tahun ini, kita sedang dipersiapkan untuk meraih janji Tuhan digenapi nyata kita alami. Kita dibawa ke dalam pemulihan seutuhnya, dibawa ke dalam kepenuhan yang dirancang Tuhan Yesus - entering the next level.
Unta-unta yang  datang kepada kita membawa kelimpahan dari Tuhan - sebagai wujud kesetiaan Tuhan menyatakan kebaikan dan kemurahanNya -  adalah gambaran mengenai Tahun Gimel. Itulah yang Tuhan sedang siapkan untuk terjadi atas kita.
Karena itu kita harus berjalan dalam firmanNya sebagai umat yang setia menuruti tuntunanNya bagi kita, supaya kita ada di dalam kairos Tuhan, yaitu waktu Tuhan untuk mewujudkan janjiNya bagi kita. Tuhan mencari orang yang tekun dan setia, yang terus melakukan apa yang menjadi kewajibannya sebagi umat pilihanNya. Sebab kamu memerlukan ketekunan, supaya sesudah kamu melakukan kehendakNya, kamu memperoleh apa yang dijanjikanNya itu (Ibrani 10: 36).
Bercermin dari Yosua yang memimpin umat Israel memasuki negeri Perjanjian, kita belajar dari contoh ini dan memperhatikan apa yang penting untuk diteladani. Perhatikan kenyataan dari teladan mereka ini:
  • Melalui perjalanan di padang gurun yang telah ditempuh bersama Tuhan, mereka telah ditempa untuk menjadi orang-orang yang tangguh. Tuhan memproses dan menjadikan mereka rendah hati dan berpegang kepada firman. Ingatlah selalu kepada perjalanan yang kau lakukan atas kehendak Tuhan, Allahmu, di padang gurun selama empat puluh tahun ini dengan maksud merendahkan hatimu dan untuk mengetahui apa yang ada di dalam hatimu, yakni, apakah engkau berpegang pada perintahNya atau tidak (Ulangan 8: 2).
  • Mereka dilatih menjadi orang yang  konsisten untuk memperkatakan dan merenungkan firman Tuhan, sehingga bertindak sesuai firman.  Teguh hati untuk memperkatakan, merenungkan dan dalam bertindak mempraktekkan firman adalah perintah yang Tuhan tandaskan dalam Kitab Yosua 1: 7-8.
Hal ini adalah untuk memastikan agar mereka berhasil dan beruntung dalam perjalanan menaklukkan negeri Perjanjian. Hal itulah juga yang harus kita contoh, latih dan disiplinkan, sehingga kita meraih janjiNya menjadi kenyataan di musim ini.
Kitab Yosua adalah kitab penggenapan janji Allah kepada Abraham dan keturunannya. Apa yang telah Tuhan katakan kepada Abraham tentang negeri Perjanjian diwujudkan mulai di Kitab Yosua. Orang-orang Israel menaklukkan negeri Perjanjian dan menikmati penggenapan janji Allah di sana. Kitab Yosua dimulai dengan perintah mempersiapkan diri untuk menyeberang Kanaan di Pasal 1. Tuhan  menjanjikan, tidak seorangpun dapat bertahan menghadapi Yosua, setiap tempat yang diinjaknya, Tuhan berikan jadi miliknya.  Tuhan memerintahkan untuk Yosua teguh hati, tidak boleh tawar hati.
Selanjutnya di bagian akhir, dalam Pasal 21  ditegaskan kenyataan pewujudan seluruh janji Tuhan digenapi. "Dari segala yang baik yang dijanjikan Tuhan kepada kaum Israel, tidak ada yang tidak dipenuhi; semuanya terpenuhi." Kita perlu belajar akan hal ini dan memperhatikannya dengan segenap hati. Karena itu, kita perlu meneladani hal berikut:
  • Kita harus bercermin dari pengalaman ini, bahwa apa yang telah kita lihat dari perbuatan Tuhan kepada umatNya, bahwa sesungguhnya Dia adalah Allah yang setia dengan janjiNya: kenyataan ini menjadi dorongan hati untuk setia dalam menyembah Tuhan sampai kita diangkat ke dalam kemuliaan.
  • Kita melihat ke depan dengan iman, mata kita fokus kepada Allah. Hiduplah untuk tujuan Allah.
  • Kita memandang kepadaNya dengan pengenalan akan Dia sebagai Yehova Jireh. Dia adalah  Allah yang sudah menyediakan segala sesuatu untuk penggenapan setiap janjiNya di tahun ini nyata kita alami seutuhnya. Pasti Dia wujudkan pada waktuNya.
Yosua adalah contoh dan saksi sebagai orang yang meraih janji Allah digenapi. Dalam mengkhiri perjalanan hidupnya Yosua mengatakan hal ini kepada seluruh umat Israel:
Yosua 23: 14 
"Maka sekarang, sebentar lagi aku akan menempuh jalan segala yang fana. Sebab itu insaflah dengan segenap hatimu dan segenap jiwamu, bahwa satu pun dari segala yang baik yang telah dijanjikan kepadamu oleh Tuhan, Allahmu, tidak ada yang tidak dipenuhi. Semuanya telah digenapi bagimu. Tidak ada satu pun yang tidak dipenuhi."
Kitapun akan mengalami kenyataan ini. Siapkan hatimu, teguhkan dan kuatkan hati, terus perkatakan firman Tuhan, mari kita bergerak melangkah bersama Tuhan untuk melakukan kehendakNya, maka janjiNya pasti digenapi.

KUNCI KEMENANGAN DALAM PEPERANGAN

Setiap tempat yang akan diinjak oleh telapak kakimu Kuberikan kepada kamu, seperti yang telah Kujanjikan kepada Musa… Seorangpun tidak akan dapat bertahan menghadapi engkau seumur hidupmu; seperti Aku menyertai Musa, demikianlah Aku akan menyertai engkau; Aku tidak akan membiarkan engkau dan tidak akan meninggalkan engkau. – Yosua 1:3 ,5
Hari-hari ini kita sedang berada di dalam masa-masa peperangan rohani yang dahsyat. Kita diminta oleh Tuhan untuk masuk dalam peperangan rohani untuk mengambil atau merebut kembali “tanah kanaan” yang seharusnya menjadi milik kita. Apa yang perlu kita lakukan agar kita mengalami kemenangan dalam peperangan rohani ini?
Mari kita belajar dari kisah Yosua ketika ia dan bangsa Israel menduduki dan merebut kota Yerikho dan kota Ai.
1. Banyak Memuji, Menyembah dan Meninggikan Tuhan.
Kemudian Yosua bin Nun memanggil para imam dan berkata kepada mereka: "Angkatlah tabut perjanjian itu dan tujuh orang imam harus membawa tujuh sangkakala tanduk domba di depan tabut TUHAN." – Yosua 6:6
Para Imam diminta untuk mengangkat tabut dan meniupkan sangkakala. Tabut Allah pada waktu itu selalu melambangkan kehadiran Tuhan dan sangkakala tanduk domba yang ditiupkan selalu melambangkan doa, pujian dan penyembahan. Mazmur 22:4 mengatakan bahwa Allah bertahta di atas puji-pujian umat-Nya. Kita perlu menaikan doa, pujian dan penyembahan, membawa hadirat Allah dalam setiap peperangan, persoalan dan masalah yang kita hadapi.
Dalam kisah Yosua pasal 6 ini kita melihat bagaimana tembok setebal 6 meter dapat diruntuhkan dengan doa, pujian dan penyembahan. Dan kita pun teringat kisah dalam Perjanjian Baru bagaimana ketika Paulus dan Silas memuji-muji Tuhan, sendi-sendi penjara Filipi goyang, pintu-pintu penjara dan rantai-rantai terlepas, bukan? (Kisah Para Rasul 16)
Ketika kita memuji dan menyembah Tuhan sesungguhnya kita sedang meninggikan dan menempatkan Tuhan di atas masalah atau persoalan kita. Pada waktu kita memuji-muji dan meninggikan Tuhan, iman kita sedang diangkat untuk melihat bahwa Tuhan lebih besar dari masalah kita; bahwa Dia sanggup untuk menyelesaikan setiap persoalan kita. Iman inilah yang akan mendatangkan mujizat dalam hidup kita.
2. Dilarang “Berkata-kata" Tetapi Yosua telah memerintahkan kepada bangsa itu, demikian: "Janganlah bersorak dan janganlah perdengarkan suaramu, sepatah katapun janganlah keluar dari mulutmu sampai pada hari aku mengatakan kepadamu: Bersoraklah! --maka kamu harus bersorak." – Yosua 6:10
Melalui Yosua, Tuhan memerintahkan kepada pasukan Israel untuk tidak mengeluarkan sepatah kata pun selain daripada sangkakala yang ditiup terus menerus. Mengapa?
Kecenderungan kita ketika kita menghadapi persoalan /masalah yang sulit adalah berkeluh kesah atau berkata negatif. Keluh kesah, gerutu, sungut-sungut atau ketidak percayaan adalah lawan dari iman. Iblis – musuh kita, ingin kita fokus pada masalah dan kekurangan kita. Dan saat kita berfokus kepada masalah /persoalan, kita akan kehilangan fokus kita akan kebesaran Tuhan, dan kita akan kehilangan iman kita. Itulah sebabnya Tuhan melarang bangsa Israel berkata-kata sewaktu mengelilingi tembok Yeriko. Perkataan yang salah dapat menjadi racun bagi seluruh “perkemahan”. Perkataan yang salah dapat meng-aborsi janji Tuhan atas hidup kita.
3. Jangan ada “Akhan”
Tetapi orang Israel berubah setia dengan mengambil barang-barang yang dikhususkan itu, karena Akhan bin Karmi bin Zabdi bin Zerah, dari suku Yehuda, mengambil sesuatu dari barang-barang yang dikhususkan itu. Lalu bangkitlah murka TUHAN terhadap orang Israel. – Yosua 7:1
Kota Ai adalah kota yang kecil. Tetapi kenapa orang Israel mengalami kekalahan dalam penyerbuan yang pertama terhadap kota ini?
Hal itu dikarenakan ada dosa Akhan di dalam perkemahan Israel.
Ketika kita mempelajari seluruh kitab Raja-raja dan kitab Tawarikh mengenai kisah raja-raja Israel dan Yehuda, kita mendapat satu kesimpulan: Ketika / selama raja-raja tersebut berpaut kepada Tuhan, hidup sungguh-sungguh mengasihi Tuhan, melakukan segenap perintah-perintah-Nya degan tidak menyimpang ke kiri dan ke kanan, maka kerajaan mereka aman tenteram, dan tak ada satu musuh pun yang dapat bertahan di hadapan mereka. Ketika mereka pergi berperang, maka kemenangan mereka tidak pernah ditentukan dari seberapa besar atau kecil nya musuh, atau seberapa besar kekuatan mereka. Tapi kemenangan mereka selalu ditentukan dari hubungan mereka dengan Tuhan. Satu orang dapat mengalahkan seribu orang, kata Tuhan. Tapi jika mereka berubah setia kepada Tuhan, jangankan musuh yang besar; musuh yang kecil pun mereka pasti kalah.
Oleh karena itu dalam era peperangan rohani yang dahsyat ini, pastikan kita hidup sungguh-sungguh mengasihi dan takut akan Tuhan, lebih banyak berdoa, memuji dan menyembah Tuhan, dan jangan ijinkan kita berkata-kata yang negatif yang dapat menutup berkat atau kemenangan yang harus kita raih! TUHAN YESUS MEMBERKATI.

MENGENAL

Adalah suatu kehormatan yang tidak ternilai dan kebahagiaan besar melampaui apapun juga jika oleh karena kasih karunia Tuhan kita dapat dibawa untuk datang mendekat kepadaNya dan agar kita dapat mengenal Dia dengan benar. 
Rasul Paulus berkata, “Aku berdoa, supaya kamu bersama dengan segala orang kudus dapat memahami, betapa lebarnya dan panjangnya dan dalamnya dan tingginya kasih Kristus, dan dapat mengenal kasih itu, sekalipun ia melampaui segala pengetahuan.  Aku berdoa supaya kamu dipenuhi didalam seluruh kepenuhan Allah.” (Efesus 4:18-19)
Mengenal Tuhan yang adalah Kasih, mengenal pribadiNya, mengenal hati dan pikiranNya, mengenal perasaanNya, mengenal jalan-jalanNya, mengenal kehendak dan tujuan-tujuanNya, mengenal nilai-nilai dan hukum-hukumNya, mengenal kuasaNya dan masih banyak lagi yang jika dituliskan secara menyeluruh memerlukan kekekalan untuk menjabarkan Tuhan.
Rasul Paulus berharap dan berdoa agar jemaat di Efesus dan orang-orang kudus, termasuk setiap kita, dapat memahami dan mengenal Tuhan melampaui pembelajaran ilmu pengetahuan tentang Tuhan, sebab diri Tuhan melampaui semuanya itu, agar supaya setiap pemercaya dapat dipenuhi dengan seluruh kepenuhan Tuhan.   Dengan kata lain kita mengalami perubahan menjadi serupa dengan Dia didalam kemuliaan yang semakin besar.  Pikiran dan perasaan kita semakin memiliki pikiran-pikiran dan perasaan yang terdapat didalam Kristus Yesus,  kehendak dan tujuan-tujuanNya menjadi kehendak dan tujuan-tujuan kita, nilai-nilai dan hukum-hukumnya tertulis didalam loh hati kita sehingga hal-hal yang supranatural dari padaNya  menjadi natural didalam kehidupan baru kita.
Ilmu pengetahuan tentang Tuhan, jabatan, titel, posisi, karunia pelayanan semua itu baik.  Tetapi kesemuanya itu bukan menjamin seseorang memiliki pengenalan akan Tuhan dengan benar.
Diperlukan perjumpaan demi perjumpaan antara kita dengan Tuhan baik didalam alam jiwa melalui perenungan yang mendalam dan persekutuan dengan Firman Tuhan, sehingga Firman itu memerdekakan jiwa kita, yakni perasaan, pikiran dan kehendak kita dan juga melalui manusia roh kita dengan Roh Tuhan.
Suatu hari beberapa tahun yang silam saya mengalami perjumpaan dengan Tuhan melalui roh saya ketika saya sedang didalam doa.  Saya mendapatkan diri saya sedang mendaki sebuah gunung yang begitu tinggi, jika dilihat dari pandangan atas ke bawah demikian terjal dan curam.  Dibantu dengan tali pengikat dipinggang saya dan tali yang lain yang telah tersangkut dan bersauh jauh dipuncaknya.  Dan dengan susah payah saya mendaki dan akhirnya saya mencapai puncak gunung.  Saya sebut ini sebagai “Pengalaman Puncak Gunung” (Mountain Top Experience).  Ketika mencapai puncaknya, separuh badan saya masih belum memijak puncak gunung, saya terkejut melihat sepasang kaki yang tertutup dengan debu memakai sepatu bertali.  Seketika itu juga tanpa saya melihat wajahNya, saya tahu bahwa sepasang kaki tersebut adalah sepasang kaki Tuhan kita Yesus Kristus.  Saya dekati sepasang kaki tersebut.  Perasaan saya pada waktu itu seperti menemukan sebuah  harta karun yang tidak ternilai dan dengan air mata saya yang bercucuran saya menyeka sepasang kaki yang tertutup dengan debu.  Kemudian saya mendengar Dia berkata, “Maukah engkau melihat Anak Manusia itu berjalan kembali di bumi ?”  Saya menjawab Dia sambil terus menyeka sepasang kakiNya dengan air mata saya, “Ya, Tuhan, aku mau …”
Sesungguhnya Tuhan merindukan Rupa dan GambaranNya, anak-anak manusia, putera-putera (Huios) Tuhan untuk memenuhi bumi berjalan layaknya Ia berjalan.  Bergerak layaknya Ia bergerak.  Berbicara layaknya Ia berbicara.  Berpikir layaknya Ia berpikir.  Melakukan hal-hal yang Ia lakukan bahkan hal-hal yang lebih besar dari yang Ia pernah lakukan.  Hal-hal yang memuliakan dan membuat Bapa dikenal diseluruh bumi melalui keturunan-keturunanNya.
Ketika Elia melawan nabi-nabi Baal, Elia berdoa, “Jawablah aku ya TUHAN, jawablah aku, supaya bangsa ini “mengenal” (Ibr. “Yadha”) bahwa Engkaulah Allah, TUHAN (Yehova, Elohim), dan Engkaulah yang membuat hati mereka tobat kembali.”  (1 Raja-Raja 18:37)
Elia rindu agar Yehova, Elohim, dikenal dibangsanya.  Elia tidak mewakili institusi manapun.  Tidak ada nabi yang sejati berbicara atas nama institusi.  Elia hanya mau, TUHAN Allahnya, menjadi dikenal dan terkenal.  Dan merindukan agar umatNya kembali bertobat dan datang kepada TUHAN.
Menjelang hari-hari kedatangan Tuhan kita Yesus Kristus, marilah kita sepakat untuk memakai seluruh kehidupan kita untuk mengenal Dia dengan benar agar supaya Ia dapat dikenal melalui hidup kita, Dia yang menjadi terkenal.  Dia yang bertambah-tambah dan kita yang berkurang-kurang.  Sehingga kita dipenuhi dengan seluruh kepenuhanNya dan dunia dapat melihat pribadiNya didalam hidup kita.  Saya ingin mengutip motto Almarhum ayah saya yang ia hidupi, “To Know Him and To Make Him Known.”  Tidak ada motivasi dan ambisi lain didalam hidupnya kecuali ingin untuk lebih lagi mengenal Tuhan dengan benar agar Tuhan dapat dikenal melalui kehidupannya.
Apapun pencapaian didalam kehidupan kita, didalam keluarga, didalam pergaulan, didalam pekerjaan, didalam usaha, didalam pelayanan, didalam panggilan, jika didasari dari pengenalan kita akan Tuhan dengan benar maka semua memiliki tujuan hanya untuk membuat Tuhan dikenal.
Alangkah ironisnya jika kita berpikir kita telah mengenal Tuhan, tetapi pada akhir hidup kita Tuhan berkata, “Aku tidak pernah mengenal kamu ! Enyahlah daripadaKu, kamu sekalian pembuat kejahatan !”
Tuhan mengenal siapa kepunyaanNya (2 Timotius 2:19), yaitu mereka yang mengenal Tuhan dan melakukan kehendakNya.
(BPP/0413)

KUNCI KEMENANGAN MENGHADAPI PEPERANGAN ROHANI YANG DAHSYAT

Hari-hari ini kita sedang memasuki peperangan rohani yang sangat dahsyat. Di satu sisi Tuhan sedang membentuk kita untuk menjadi pasukan mempelaiNya yang siap untuk penuaian besar-besaran dan menyambut kedatanganNya kedua kali.
Di sisi lain, iblis tidak tinggal diam, berusaha sekuat tenaganya untuk merebut jiwa sebanyak mungkin agar binasa (Yohanes 10:10a). Dalam Matius 25:1-13 kisah lima gadis bijaksana dan lima gadis bodoh, merupakan kisah yang sangat sering kita dengar dan dibahas dalam kotbah, tapi sekarang saatnya untuk kita benar-benar lakukan. Ada 3 kunci utama yang perlu dilakukan hari-hari ini untuk memperoleh kemenangan besar yaitu:
1. Penuh dengan Firman (pelita yang dibawa gadis-gadis) Matius 25 : 3-4.
Langkah pertama untuk penuh dengan Firman adalah dengan memiliki saat teduh yang berkualitas setiap harinya. Saat teduh adalah waktu teduh yang dipergunakan untuk dipakai untuk membangun keintiman dengan Tuhan, mempersembahkan pujian penyembahan, berdoa, membaca firmanNya dan mendengar suaraNya. Markus 1 : 35 Tuhan Yesus memberikan teladan dalam bersaat teduh. Selain saat teduh, penting juga kita merenungkan FirmanNya sepanjang hari, memperkatakan Firman Tuhan dan menghafalkan. Hal ini sangat penting dalam menghadapi kesesakan, pergumulan, proses dan peperangan rohani dalam hidup kita. Firman Tuhan adalah pedang Roh, artinya harus digunakan dengan tepat dan setiap saat dalam peperangan rohani. Pastikan kita setiap hari, setiap saat penuh dengan Firman sehingga selalu berjaga dalam serangan iblis dan mengalami kemenangan.
2. Penuh dengan Roh Kudus (persediaan minyak dalam buli-buli) Matius 25 : 4.
Hal kedua yang perlu ada dalam kehidupan pasukan mempelaiNya adalah penuh dengan Roh Kudus, caranya yaitu dengan dibaptis Roh Kudus dengan tanda awal berbahasa roh. Namun tidak cukup hanya itu, kita harus banyak berdoa dalam bahasa roh. Bangun rohani kita sehingga kita memiliki manusia rohani yang kuat dalam menghadapi berbagai tantangan apapun. Langkah awal untuk penuh dengan Roh Kudus adalah hidup kudus (1 Petrus 1:16 “Kuduslah kamu, sebab Aku kudus”). Minta kemampuan Allah untuk kita bisa hidup kudus, dengan kerendahan hati selalu bertobat dari kesalahan yang ada, jaga hati – pikiran – perkataan – prilaku kita, cara berpakaian, pergaulan, dll. Hanya orang yang hidup kudus, dapat intim dengan Tuhan dengan demikian kita mudah rasakan hadirat dan pengurapanNya.
3. Tunduk pada Allah dan  lawan iblis (Yakobus 5:17).
Peperangan kita bukan melawan darah dan daging, tapi roh dan penguasa di udara Efesus 6. Untuk melakukan peperangan rohani, melawan iblis dan antek-anteknya, maka kita harus tunduk pada Allah. Artinya kita mentaati firman Allah, perintah Tuhan dan apa yang menjadi kehendak Allah dalam segala aspek kehidupan kita. Lalu lawan iblis yang menyerang pikiran kita, hidup kita, hancurkan pekerjaan-pekerjaan iblis, karena kita tunduk pada Allah dan mengenakan perlengkapan senjata Allah (Efesus 6 : 10-18) maka kemenangan bahkan menjadi lebih dari pemenang akan kita alami (Roma 8 : 37).
Gadis bijaksana melambangkan gereja Tuhan yang siap menyambut mempelai surgawi, Tuhan Yesus datang kedua kali. Kita percaya sebelum kedatanganNya kedua kali, maka akan terjadi penuaian beribu-ribu laksa, karena hati Allah rindu sebanyak mungkin orang dimenangkan. Untuk itu kita harus terus mempersiapkan diri jadi Pasukan MempelaiNya yang siap untuk menuai. Haleluyahhhh!

BEBAS DARI KETAKUTAN

1 Yohanes 4:18
Di dalam kasih tidak ada ketakutan: kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan; sebab ketakutan mengandung hukuman dan barangsiapa takut, ia tidak sempurna di dalam kasih.
Setiap manusia pasti pernah mengalami rasa takut, namun taukah saudara bahwa salah satu tipu muslihat iblis adalah memanfaatkan kondisi kita yang sedang " jauh " dari Tuhan?
Saat seseorang jauh dari Tuhan alias tidak intim dengan Tuhan maka orang tersebut akan mudah sekali kuatir dan kekuatiran inilah yang seringkali dimanfaatkan oleh iblis sebagai tempat menabur ketakutan.
Ketakutan itu seperti " debu "  yang ukurannya sangat kecil, sebetulnya mudah dihilangkan apalagi sekarang alat vacuum cleaner sudah makin canggih.
Iblis menebar ketakutan yang tujuannya hanya satu yaitu membuat kita jauh dari Tuhan dan akhirnya binasa.
Ketika seseorang tidak mempunyai hubungan yang intim dengan Tuhan maka imannya akan mudah goyah dan rapuh sehingga ketidakpercayaan akan menguasai hidupnya.
Ketidakpercayaan itu bagaikan kaca pembesar yang bisa melihat sesuatu yang kecil menjadi terlihat besar.
Oleh karena itu ketika si iblis menyebar debu dimana - mana dan orang tersebut mulai menggunakan kaca pembesarnya yaitu bentuk ketidakpercayaan , lalu apa yang terjadi ?  debu yang kecil  itu akan terlihat seperti batu besar yang akan menghantamnya.
Roh Kudus adalah penolong kita dan kuasa firmanNya bagaikan vacuum cleaner yang sanggup menyedot debu jenis apapun juga.
Ketika Petrus belum dipenuhi oleh Roh Kudus ia dikuasai ketakutan sampai - sampai ia menyangkal Yesus.
Ada berapa banyak orang yang mengaku beragama Kristen yang hari Minggu beribadah ke gereja tapi dari hari Senin sampai Sabtu " menyangkal Yesus dan FirmanNya " dengan cara kembali kompromi dengan dosa dan keduniawian seperti melakukan atau menerima suap, manipulasi, korupsi dan lain - lain hanya karena " takut " miskin, " takut " jabatannya dicopot dan sebagainya.
Ketakutan yang iblis tebarkan sekilas rasanya masuk akal dan bagi orang yang tidak intim dengan Tuhan ketakutan itu akan langsung diterimanya dan digunakan sebagai alasan untuk melakukan segala cara demi mencapai tujuannya.
Itulah yang dilakukan oleh Petrus , ia pikir jika saat itu ia mengaku bahwa ia juga bersama – sama dengan Yesus maka ia takut akan dianiaya dan lain sebagainya sehingga memutuskan untuk menyangkal Yesus.
Namun ketika Petrus dipenuhi oleh Roh Kudus dan FirmanNya maka ia tidak takut lagi menyatakan imannya kepada semua orang sehingga ia semakin dipakai Tuhan dengan luar biasa.
Allah adalah kasih, ketika kita melekat denganNya maka Ia akan memberikan kekuatan untuk menepis segala ketakutan yang iblis tebarkan
Bagaimana dengan saudara ?
2 Timotius 1 : 7
Sebab Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban.
Kiranya Tuhan memberkati kita dengan limpahnya.

WE ARE THE BRIDE OF CHRIST

Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging. Rahasia ini besar, tetapi yang aku maksudkan ialah hubungan Kristus dan jemaat. – Efesus 5:31-32
Dalam tradisi kuno Yahudi, pernikahan Yahudi dibagi menjadi dua bagian. Bagian pertama atau tahapan pertama disebut Pertunangan / Betrothal dalam bahasa inggrisnya atau disebut “kiddushin” di dalam tradisi Yahudinya. Dan tahapan kedua disebut “nissuin” yang dalam istilah kita sehari-hari berarti upacara pernikahan (wedding celebration).
Kiddushin berarti sanctification: dikuduskan atau dipisahkan (“Thou art consecrated to me according to the Law of Moses and of Israel”). Di dalam tradisi Yahudi pertunangan menjadi sesuatu yang sangat penting. Saat seorang pria Yahudi bertunangan dengan seorang wanita, maka secara hukum, mereka telah resmi menjadi suami istri, hanya saja mereka tidak diperbolehkan/ belum diijinkan untuk melakukan hubungan suami istri.
Kelahiran Yesus Kristus adalah seperti berikut: Pada waktu Maria, ibu-Nya, bertunangan dengan Yusuf, ternyata ia mengandung dari Roh Kudus, sebelum mereka hidup sebagai suami isteri. Karena Yusuf suaminya, seorang yang tulus hati dan tidak mau mencemarkan nama isterinya di muka umum, ia bermaksud menceraikannya dengan diam-diam.
Ada perbedaan antara pertunangan ala “Yahudi” (Betrothal) dengan pertunangan (engagement) yang biasa kita kenal di dunia modern saat-saat sekarang. Pertunangan dalam tradisi Yahudi mengandung ikatan perjanjian (covenant) di dalamnya. Ada sumpah yang diikrarkan. Bagi pasangan Yahudi, mereka telah sah menjadi suami istri ketika mereka bertunangan. Bagi kita, kita dinyatakan sah saat kita sudah diberkati di “altar”.
Tidak ada kata mundur atau berbalik, ketika mereka sudah bertunangan, mereka terikat sampai ajal memisahkan mereka. Walaupun tentunya ada juga mereka yang melanggar sumpah itu seperti halnya kita pada jaman ini. Tetapi sesungguhnya pertunangan itu benar-benar adalah hal yang sangat serius di dalam pernikahan Yahudi, saat itu, karena ada sumpah /covenant di dalamnya.
Kita bisa melihat betapa seriusnya pertunangan sepasang mempelai Yahudi di hadapan Tuhan, dengan melihat contoh nya di dalam Ulangan 22:23-24
Apabila ada seorang gadis yang masih perawan dan yang sudah bertunangan--jika seorang laki-laki bertemu dengan dia di kota dan tidur dengan dia, maka haruslah mereka keduanya kamu bawa ke luar ke pintu gerbang kota dan kamu lempari dengan batu, sehingga mati: gadis itu, karena walaupun di kota, ia tidak berteriak-teriak, dan laki-laki itu, karena ia telah memperkosa isteri sesamanya manusia. Demikianlah harus kauhapuskan yang jahat itu dari tengah-tengahmu.
Dari ayat ini sekali lagi kita melihat bahwa seorang gadis yang telah bertunangan itu sudah disebut ISTRI (sama seperti halnya kisah Yusuf dan Maria). Dan pelanggaran yang terjadi di atas diperhitungkan Tuhan sebagai perzinahan (adultery) bukan sekedar percabulan (fornication).  (Perhatikan perbedaan antara ayat 23-24 tadi dengan ayat 28-29. Tidak ada hukuman mati bagi seorang gadis yang belum bertunangan, bila kedapatan berhubungan badan dengan seorang laki-laki). Jadi di sini kita lihat betapa seriusnya pertunangan Yahudi di hadapan Tuhan.
Dan tahukah Saudara, bahwa Saudara  sudah dipertunangkan dengan Kristus saat kita percaya dan menerima-Nya sebagai Juruselamat kita? Tahukah saudara bahwa saudara adalah Mempelai-mempelai-Nya Kristus.
Dalam tradisi pertunangan Yahudi, seorang calon mempelai pria akan datang untuk melamar calon mempelai wanitanya dengan melakukan tiga hal utama:
1. Menyerahkan uang mahar (emas kawinnya).
2. Memberikan kontrak nikah (covenant)
3. Dan memateraikan semuanya itu dengan minum anggur dari cawan yang sama, sebelum akhirnya ia (mempelai pria) meninggalkan mempelai wanitanya, berpisah untuk suatu waktu tertentu, untuk kembali ke rumah Bapanya untuk mempersiapkan tempat tinggal bagi sang mempelai wanita, supaya di mana ia berada sang mempelai wanita ada juga bersamanya.
Bukankah semua itu sudah dilakukan Kristus bagi kita?
Bukankah Ia telah membayar uang maharnya /emas kawinnya bagi anda dengan darah-Nya yang mahal, dan harganya telah lunas dibayar, dan kita sekarang bukan lagi milik kita sendiri, tapi kita sudah menjadi milik-Nya? (1 Korintus 6:20)
Bukankah Ia telah memberikan perjanjian-Nya (Firman Tuhan /Alkitab) dan Roh Kudus-Nya bagi kita? (2 Petrus 1:2-4)
Dan pada malam sebelum Ia diserahkan untuk disalib bukankah Ia juga telah mengangkat cawan anggur dan berkata: "Minumlah, kamu semua, dari cawan ini.
Sebab inilah darah-Ku, darah perjanjian, yang ditumpahkan bagi banyak orang untuk pengampunan dosa (Matius 26: 27-28)
Bukankah Ia juga telah berkata kepada murid-murid-Nya: "Janganlah gelisah hatimu; percayalah kepada Allah, percayalah juga kepada-Ku. Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal. Jika tidak demikian, tentu Aku mengatakannya kepadamu. Sebab Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu. Dan apabila Aku telah pergi ke situ dan telah menyediakan tempat bagimu, Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempat-Ku, supaya di tempat di mana Aku berada, kamupun berada. (Yohanes 14:1-3)
Mengetahui / mengenali identitas kita sebagai Mempelai-mempelai-Nya sangat penting. Mengetahui / mengenali identitas kita akan merubah hidup kita. Waktu kita mengenali identitas kita, hidup kita akan berubah (inilah yang disebut perubahan inside out – dari dalam keluar). Heidi Baker seorang penginjil yang sangat terkenal dengan pelayanan-nya kepada anak-anak miskin dan menderita di Mozambiq melukiskan tentang identitas sebagai berikut:
Dalam suatu penglihatan, Tuhan memperlihatkan suatu pesta jamuan makan yang besar, penuh dengan jamuan yang berlimpah dan pesta itu dihadiri banyak orang. Tapi dari orang-orang yang diundang itu ternyata ia menemui ada dua tipe orang yang berperilaku ganjil yang tidak mengenali identitasnya. Tipe orang yang pertama: Dengan sembunyi-sembunyi ketika orang-orang tidak melihatnya, mereka mulai mencuri makanan di meja yang sebenarnya memang disediakan secara cuma-cuma untuk mereka.
Tipe yang kedua adalah: tipe orang-orang yang ia jumpai, mengambil dan menimbun makanan di piring mereka secara begitu luar biasa, sehingga seolah-olah tidak ada makanan lagi untuk hari esok. Mereka terlihat begitu serakah.
Kedua tipe orang ini adalah contoh orang-orang yang telah kehilangan identitasnya.. Mereka adalah orang-orang yang tidak bisa mengenali identitasnya, sama seperti si sulung dalam kisah anak yang hilang (Lukas 15).
Kehidupan, kebudayaan dan perlakuan orang pada masa lalu telah membentuk mereka sehingga mereka kehilangan identitas yang benar. Tapi Tuhan mau kita mengenali identitas kita yang benar / sesungguhnya… Karena pengenalan akan identitas akan merubah hidup kita.. (Pangeran William dari kerajaan Inggris, dia hidup dengan gaya hidup dan nilai-nilai kerajaan Inggris. Dia berpakaian, bertingkah laku dan berbicara layaknya seorang bangsawan… Mengapa? karena ia tahu dan mengenali identitasnya bahwa ia adalah seorang pangeran yang suatu hari akan menjadi pewaris tahta bapaknya).
Identitas inilah yg senantiasa ingin dicuri oleh iblis. Karena ketika ia dapat mencuri identitas Anda, ia dapat mencuri potensi dan otoritas yang ada dalam hidup Anda.
Bapak Rev. Kenneth Hagin Sr, seorang yang dikenal sebagai bapak iman modern membagi gereja dalam 3 jenis:
1. Gereja yang kalah; kerjaannya jatuh bangun.
2. Gereja yang Bergumul /berjuang untuk menang, dan yang ketiga;
3. Gereja yang berkemenangan (the triumphant church).
Beliau mengatakan sayangnya banyak gereja masih ada dalam jenis yang kedua. Ia tidak mengerti identitasnya sebagai lebih dari pemenang di dalam Yesus Kristus. Ia senantiasa bergulat /berjuang untuk menang.
Tapi ada jenis gereja yang ketiga. Ia bukannya tidak melakukan peperangan. Ia melakukan peperangan tapi ia melakukannya dari posisi sebagai pemenang. Ia berperang dari kemenangan (Fight from victory not fight for victory). Ini paradigma yang benar.
Demikian pula dengan kita. Sewaktu kita mengenali identitas kita sebagai mempelai-mempelaiNya yang telah bertunangan dengan DIA (menurut konsep /tradisi Yahudi), maka kita akan hidup dalam OTORITAS yang benar dan kita tidak akan hidup asal-asalan, Kita akan memelihara dan menjaga hidup kita dengan sungguh-sungguh karena kita tahu kita adalah Mempelai-Nya. Dan sama seperti halnya seorang wanita Yahudi yang telah bertungangan - mempersiapkan dirinya untuk kedatangan sang mempelai pria, maka kita pun mempersiapkan hidup kita bagi Nya. Kita hidup hanya bagi Dia (consecrated to Him).. tidak boleh ada “pria” lain dalam hidup kita. Itulah sebabnya Bapak Gembala Sidang kita hari-hari ini dengan keras memperingati kita untuk tidak mencintai dunia dan apa yang ada di dalamnya.. (Matius 6 : 24).
Saudara-saudara kedatangan Tuhan Yesus untuk kali yang kedua menjemput Mempelai-mempelai-Nya sudah sangat singkat, biarlah kita seperti lima gadis bijaksana yang kedapatan berjaga-jaga dan siap ketika Ia datang. Marilah kita sungguh-sungguh hidup dalam kekudusan karena kita tahu kita telah menjadi Mempelai-mempelai-Nya. TUHAN YESUS MEMBERKATI. MARANATHA, datanglah segera Tuhan Yesus.

MENGALAMI KARYA ROH KUDUS

Sebab Yohanes membaptis dengan air, tetapi tidak lama lagi kamu akan dibaptis dengan Roh Kudus. Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi. (Kisah 1:5,8)
Sebelum kenaikan Tuhan Yesus ke sorga, para rasul sesungguhnya telah belajar firman langsung dari Tuhan Yesus selama 3 ½ tahun. Mereka telah praktek bersama Yesus dalam kebenaran firman yang diajarkanNya. Namun, ketika melewati masa penyaliban Yesus, iman mereka runtuh. Mereka takut dan patah semangat. Bahkan Petrus menyangakal Tuhan Yesus.  Tanpa mengalami karya Roh Kudus kekristenan lemah dan kalah.
Karena itu sejak kebangkitan Yesus dari kematian, Tuhan menekankan agar para murid menantikan janji Bapa, yaitu dipenuhi Roh Kudus. Tanpa itu semua yang mereka telah pelajari akan sia-sia. Karena itu, kita harus mengerti pentingnya Roh Kudus atas hidup kita dan atas pelayanan yang kita lakukan buat Tuhan. Kita harus mengingini dipenuhi Roh Kudus, dan menginginkan untuk mengenalNya secara pribadi semakin dalam.
Petrus yang semula penakut dan menyangkal Yesus tiga kali, pada hari Pentakosta dipenuhi Roh Kudus. Dia berubah menjadi seorang yang sangat berbeda. Roh Kudus mengubah hidup seseorang dengan perubahan yang  radikal.
Pada Hari Pentakosta, Petrus yang penuh Roh Kudus, bangkit menjadi saksi dan berbicara dengan penuh kuasa dan gairah. Dia menjelaskan kepada umat Israel yang sedang berkumpul di Yerusalem tentang penggenapan nubuatan nabi Yoel [Yoel 2: 28-29] ratusan  tahun sebelumnya tentang pencurahan Roh Kudus. Dengan kepastian dan wibawa Illahi, dia menegaskan bahwa pencurahan Roh Kudus ini esensinya adalah tentang Yesus Kristus itu sendiri. Dengan gamblang Petrus menyampaikan pesan kesaksian pada hari itu: Yesus dibangkitkan dari kematian dan dimuliakan Allah menjadi Tuhan dan Mesias atas Israel dan atas bangsa-bangsa. Hari itu orang-orang yang ada belum pernah mendengar berita tentang orang mati bangkit. Apa yang disampaikan adalah sesuatu yang tidak masuk akal. Dampak dari khotbah Petrus bagi keselamatan orang-orang Yahudi yang tadinya tidak mau menerima Yesus menjadi sangat nyata.  Selesai Petrus menyampaikan kesaksian tentang Tuhan Yesus, 3000 orang bertobat dan memberi diri dibaptis. Karya Roh Kudus begitu dahsyat atas rasul Petrus.
Apakah kita membutuhkan pekerjaan Roh Kudus yang seperti ini pada masa sekarang? Apakah anda mau mendoakan untuk hal ini agar semakin termanifestasikan di tengah bangsa kita sekarang? Pertobatan hati kita dan menginginkan kasih karunia Roh Kudus adalah sikap hati yang harus kita miliki senantiasa agar kita mengalami karyaNya dan selalu bergerak di dalam Roh Kudus.
Apakah yang terjadi ketika Roh Kudus berkarya atas kita?
  • Roh Kudus membuat kita dapat hidup menurut kehendak Allah. Sebaliknya, jika bukan Roh Kudus yang menguasai kita, maka keinginan daging kita selalu ingin memuaskan hawa nafsu. Kedagingan tidak tunduk kepada kehendak Allah karena sesungguhnya keinginan dosa bertumpu pada kedagingan kita. Hidup menurut daging membuat kita tidak akan bisa taat menuruti kehendak Allah. Karena itu harus menjadi   keputusan untuk hidup menurut Roh. Maka kita berkuasa atas daging kita. Keputusan untuk memberi diri dikuasai Roh Kudus dan menundukkan diri hidup menurut Roh Kudus menjadikan kita berkemenangan dan berbuah bagi Tuhan. Buah Roh Kudus akan nyata keluar dari hidup kita. Kasih , sukacita dan damai sejahtera dari Roh Kudus akan menjadi pengalaman setiap hari kia karena Roh Kudus yang berkarya. (Galatia 5: 16-18)
  • Roh Kudus dijanjikan sebagai Penolong yang memberikan kekuatan untuk kita dapat menuruti firman Tuhan. Dia akan tinggal di dalam kita sebagai Roh Kebenaran yang menghadirkan kebenaranNya di dalam diri kita. Kebenaran firman akan kita mengerti oleh pertolonganNya, sehingga mengarahkan kita berjalan dalam firmannYa sebagai pelaku firman. Oleh Roh Kudus kita mengerti apa yang Yesus ajarkan, dan memiliki kemampuan melakukan firman sebagai ungkapan kasih kita kepadaNya. Hubungan yang benar dengan Roh Kudus menentukan kadar dan tingkat ketaatan kita melakukan firman Tuhan. (Yohanes 14: 15-17)
  • Roh Kudus datang untuk mengajarkan kebenaran dan memimpin kita ke dalam seluruh kebenaran. Sebab itu Dia akan membukakan kesadaran tentang apa yang salah, dan menyatakan kebenaran Allah. Dia akan membukakan apa yang ada di hati Tuhan, sehingga kita mengerti rahasia kebenaran firmanNya, dan menangkap arahanNya ke masa depan. Roh Kudus yang menghadirkan perkataan hidup dari Allah untuk menyatakan isi hati Tuhan melalui firman yang kita baca. Sehingga kita mengerti apa rancanganNya ke depan bagi kita. Kita dituntun untuk memuliakan Tuhan dalam setiap langkah maju kita berjalan mengikuti tuntunanNya ke dalam kebenaran. (Yohanes 16:  13-14)
Karena itu milikilah hati yang haus akan Pribadi RohKudus dan bangun persekutuan yang semakin mendalam, maka karyaNya akan nyata di dalam anda.
“Dan pada hari terakhir, yaitu pada puncak perayaan itu, Yesus berdiri dan berseru: “Barangsiapa haus, baiklah ia datang kepada-Ku dan minum! Barangsiapa percaya kepada-Ku, seperti yang dikatakan oleh Kitab Suci: Dari dalam hatinya akan mengalir aliran-aliran air hidup.” Yang dimaksudkan-Nya ialah Roh yang akan diterima oleh mereka yang percaya kepada-Nya; sebab Roh itu belum datang, karena Yesus belum dimuliakan.” Yohanes 7:37-39.