PROSES MENGUBAH HIDUP KITA
Sebelum Musa dipakai oleh
Tuhan untuk membawa keluar bangsa Israel dari perbudakan di tanah
Mesir, ia adalah orang yang dibesarkan dan dididik sesuai dengan budaya
Mesir. Mesir dapat diartikan sistem dunia atau cara yang biasa digunakan
oleh orang-orang yang tidak mengenal Tuhan atau kebenaran. Pada saat
Musa melihat kerja paksa yang dialami oleh saudara-saudaranya sesama
orang Ibrani, Alkitab mencatat dalam Keluaran 2:11-12 demikian: "Pada
waktu itu, ketika Musa telah dewasa, ia keluar mendapatkan
saudara-saudaranya untuk melihat kerja paksa mereka; lalu dilihatnyalah
seorang Mesir memukul seorang Ibrani, seorang dari saudara-saudaranya
itu. Ia menoleh ke sana sini dan ketika dilihatnya tidak ada orang, dibunuhnya orang Mesir itu, dan disembunyikannya mayatnya dalam pasir.”
Cara Musa dalam membela saudaranya itu merupakan ‘cara Mesir’ yang
dapat diartikan bahwa ia masih berjalan dengan cara dunia seperti yang
dijelaskan di awal. Lalu ia lari ke tanah Midian karena hendak dibunuh
oleh Firaun (Keluaran 2:15). Di Midianlah ia mengalami
proses yang mengubah cara berpikir Musa dari cara-cara Mesir. Musa tidak
lagi tinggal di istana Firaun yang mewah dan penuh dengan perlakuan
yang istimewa, melainkan ia menjadi gembala kambing domba milik Yitro,
mertuanya, imam di Midian (Keluaran 3:1).
Proses yang Tuhan ijinkan terjadi
seringkali tidak enak, tetapi itu baik untuk mengubah cara berpikir
kita. Kita harus keluar dari kebiasaan-kebiasaan lama yang telah ditanam
sejak kecil yang tidak sesuai dengan kebenaran firman Tuhan.
Di tengah proses, Musa mengalami hal-hal berikut ini yang juga harus kita alami untuk menang, yaitu:
1. Perjumpaan pribadi dengan Tuhan
Kel. 3:2-6: “Lalu
Malaikat TUHAN menampakkan diri kepadanya di dalam nyala api yang
keluar dari semak duri. Lalu ia melihat, dan tampaklah: semak duri itu
menyala, tetapi tidak dimakan api. Musa berkata: ‘Baiklah aku menyimpang
ke sana untuk memeriksa penglihatan yang hebat itu. Mengapakah tidak
terbakar semak duri itu?’ Ketika dilihat TUHAN, bahwa Musa menyimpang
untuk memeriksanya, berserulah Allah dari tengah-tengah semak duri itu
kepadanya: ‘Musa, Musa!’ dan ia menjawab: ‘Ya, Allah.’ Lalu Ia
berfirman: ‘Janganlah datang dekat-dekat: tanggalkanlah kasutmu dari
kakimu, sebab tempat, di mana engkau berdiri itu, adalah tanah yang
kudus.’ Lagi Ia berfirman: ‘Akulah Allah ayahmu, Allah Abraham, Allah
Ishak dan Allah Yakub.’ Lalu Musa menutupi mukanya, sebab ia takut
memandang Allah.”
Kita perlu mengalami perjumpaan pribadi
dengan Tuhan Yesus, karena hanya Dialah yang sanggup mengubah cara
berpikir kita. Kita tidak dapat berjalan dengan kekuatan sendiri. Oleh
sebab itu, Roh Kudus yang ada di dalam kita dengan kekuatan kuasa-Nya
sanggup mengubah hidup kita (baca Kisah Para Rasul 1:8; 2 Korintus
3:18).
2. Diutus oleh Tuhan
Keluaran 3:10: “Jadi sekarang, pergilah, Aku mengutus engkau kepada Firaun untuk membawa umat-Ku, orang Israel, keluar dari Mesir."
Pada saat Musa berjumpa dengan Allah, Ia mengutusnya untuk membawa
orang Israel keluar dari Mesir tidak lagi dengan cara Mesir, tetapi
dengan cara Tuhan.
Kita juga diutus oleh Tuhan ke dalam
dunia ini bukan untuk hidup dengan cara-cara dunia, melainkan untuk
membebaskan orang lain yang tidak mengenal Tuhan Yesus dan hidup dengan
sistem dunia ini agar mereka diajar mengenai kebenaran firman Tuhan. Matius 28:19-20 berkata: “Pergilah…”, sama seperti yang dikatakan kepada Musa: “…pergilah…”.
3. Diperlengkapi dengan kuasa
Kel. 4:2-5: “TUHAN
berfirman kepadanya: ‘Apakah yang di tanganmu itu?’ Jawab Musa:
‘Tongkat.’ Firman TUHAN: ‘Lemparkanlah itu ke tanah.’ Dan ketika
dilemparkannya ke tanah, maka tongkat itu menjadi ular, sehingga Musa
lari meninggalkannya. Tetapi firman TUHAN kepada Musa: ‘Ulurkanlah
tanganmu dan peganglah ekornya’ – Musa mengulurkan tangannya,
ditangkapnya ular itu, lalu menjadi tongkat di tangannya – ‘supaya
mereka percaya, bahwa TUHAN, Allah nenek moyang mereka, Allah Abraham,
Allah Ishak dan Allah Yakub telah menampakkan diri kepadamu.’"
Musa diutus dengan kuasa supernatural yang bersumber dari Allah untuk memperlihatkan kemuliaan-Nya kepada orang Mesir dan juga bangsa Israel.
Kita anak Tuhan juga diperlengkapi
dengan kuasa dari Roh Allah tidak hanya untuk mengubah cara berpikir
kita, tetapi juga untuk mengadakan tanda ajaib dan mujizat untuk
menyatakan kemuliaan Allah di mana pun Tuhan menempatkan kita baik dalam
pelayanan, mau pun di dunia usaha, dunia kerja dan pendidikan untuk
menjadi saksi Kristus (Kis. 1:8) seperti yang telah dikatakan oleh Bapak
Gembala Sidang/Pembina kita.
4. Hidup dalam kesatuan (unity)
Kel. 4:14-16: “Maka
bangkitlah murka TUHAN terhadap Musa dan Ia berfirman: ‘Bukankah di
situ Harun, orang Lewi itu, kakakmu? Aku tahu, bahwa ia pandai bicara;
lagipula ia telah berangkat menjumpai engkau, dan apabila ia melihat
engkau, ia akan bersukacita dalam hatinya. Maka engkau harus berbicara
kepadanya dan menaruh perkataan itu ke dalam mulutnya; Aku
akan menyertai lidahmu dan lidahnya dan mengajarkan kepada kamu apa yang
harus kamu lakukan. Ia harus berbicara bagimu kepada bangsa itu, dengan
demikian ia akan menjadi penyambung lidahmu dan engkau akan menjadi
seperti Allah baginya.”
Musa merasa tidak mampu untuk mengemban
tugas yang diberikan kepadanya karena ia berat mulut dan berat lidah
(ada yang mengatakan bahwa Musa gagap), dan ia takut kalau-kalau orang
Israel tidak mau mendengarkannya. Tetapi Tuhan murka dan menyuruhnya
untuk bekerjasama dengan Harun kakaknya. Ini berbicara tentang kesatuan/unity.
Hari-hari ini kita tidak dapat berjalan
sendirian. Kita butuh saudara seiman untuk berjalan bersama dengan kita
dalam menuai jiwa-jiwa. Ini bukan saatnya untuk one man show. Ini juga bukan saatnya untuk menjadi super star, tetapi untuk menjadi super team.
Doa Tuhan Yesus agar kita menjadi satu (Yoh. 17:21-23) harus segera
digenapi dengan cara kita merendahkan diri dan bergandengan tangan
sekali pun ada perbedaan pandangan dan doktrin. Nama Tuhan Yesus akan
dipermuliakan.
Jika kita mengalami empat hal di atas
seperti yang Musa alami, maka kita akan lulus dan keluar sebagai
pemenang, bahkan lebih dari pemenang. Level yang baru akan kita alami,
mujizat yang kreatif sudah menanti kita. Kita tidak perlu mengejar
mujizat, tetapi mujizat yang akan mengejar kita. Dan kita akan dipakai
oleh Tuhan dengan cara-Nya yang dahsyat dan ajaib.
Tuhan Yesus memberkati. Amin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar